Was-was Dampak Stagflasi Global pada Ekonomi Nasional
JAKARTA, investor.id - Kondisi perekonomian Amerika Serikat (AS) saat ini menyebabkan terjadinya kekhawatiran akan stagflasi terhadap perekonomian dunia. Pemerintah Indonesia harus menyiapkan ancang-ancang agar kondisi tersebut tidak memberikan dampak rambatan terhadap perekonomian nasional.
Stagflasi adalah kondisi ketika inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat dan tingkat pengangguran yang meningkat. Kebijakan tarif impor baru dari AS, meningkatnya biaya logistik global, dan tekanan geopolitik berpotensi memicu stagflasi dalam skala global.
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan gejala stagflasi menjadi peringatan dini bahwa fondasi makroekonomi nasional harus siap menghadapi tekanan global yang semakin kompleks. Risiko stagflasi global memberikan dua dampak utama yaitu pelemahan nilai tukar rupiah dan perlambatan ekspor.
“Dua sektor ini menjadi penopang utama stabilitas ekonomi nasional, dan keduanya sangat sensitif terhadap dinamika eksternal,” ucap Syafruddin dikutip pada Minggu (30/3/2025).
Dia menjelaskan saat terjadi inflasi tinggi di AS naik dan bank Sentral AS (The Fed) mempertimbangkan untuk menunda pemangkasan suku bunga, bahkan mungkin menaikkan kembali jika tekanan harga berlanjut maka arus modal cenderung keluar dari negara berkembang. Investor global akan memburu aset-aset safe haven seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS yang menawarkan imbal hasil tinggi. Kondisi tersebut memberikan tekanan besar pada mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.
“Rupiah cenderung melemah setiap kali The Fed memberikan sinyal hawkish, apalagi jika didorong oleh kekhawatiran stagflasi yang membuat volatilitas pasar meningkat,” jelas dia.
Baca Juga:
Volatilitas Belum TerbendungPelemahan nilai tukar rupiah tidak berdampak tunggal. Musababnya saat nilai tukar tertekan maka biaya impor naik, tekanan inflasi domestik meningkat, dan beban utang luar negeri ikut membesar. Pada saat yang sama, Bank Indonesia menghadapi dilema apakah menaikkan suku bunga untuk meredam depresiasi, atau mempertahankan suku bunga agar tidak menghambat pemulihan domestik.
“Ketidakpastian global, jika tidak diimbangi dengan koordinasi fiskal dan komunikasi kebijakan yang kuat, dapat mengikis kepercayaan pelaku usaha dan konsumen,” tegas Syafruddin.
Dampak Stagflasi ke Ekpsor
Pada saat yang sama ekspor juga menghadapi ancaman saat terjadi stagflasi. Lantaran pertumbuhan ekspor bertumpu pada permintaan global, terutama dari mitra dagang utama seperti Tiongkok, AS, dan Eropa. Bila perekonomian global melambat karena stagflasi maka permintaan terhadap komoditas baik primer seperti batu bara, sawit, dan nikel, maupun manufaktur seperti elektronik dan tekstil akan menurun.
“Negara-negara importir akan mengerem belanja mereka, baik karena tekanan harga di dalam negeri maupun karena daya beli masyarakat yang melemah,” terang dia.
Baca Juga:
Kredit UMKM Dihantam Daya BeliHal ini akan memukul pendapatan ekspor Indonesia dan mempersempit ruang fiskal pemerintah. Ketika ekspor turun maka pendapatan pajak dan devisa ikut terkikis . Surplus neraca perdagangan bisa berubah menjadi defisit.
“Kombinasi ini akan memperlemah posisi cadangan devisa dan memperbesar risiko ekonomi jangka menengah,” tutur dia.
Di tengah pergolakan ekonomi dunia, Indonesia harus merespon dengan kebijakan yang antisipatif. Pemerintah perlu memperkuat ketahanan ekonomi domestik, tidak hanya melalui belanja negara, tetapi melalui diversifikasi ekspor, penguatan industri pengganti impor, dan insentif kepada sektor-sektor yang tahan terhadap gejolak global.
“Pelaku usaha juga perlu didorong untuk melakukan lindung nilai (hedging) atas risiko nilai tukar dan mencari pasar alternatif untuk ekspor,” kata Syafruddin.
Dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia (BI) harus bersinergi bersama Kementerian Keuangan, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional(PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Indonesia membutuhkan narasi kebijakan yang terintegrasi yang menunjukkan bahwa pemerintah hadir, memahami risiko global, dan siap bertindak tegas menjaga stabilitas.
“Komunikasi kebijakan yang konsisten dan kredibel sangat penting untuk menahan gejolak ekspektasi pasar,” terang Syafruddin.
Syafruddin mengatakan masyarakat juga memiliki peran vital untuk menjaga daya tahan ekonomi nasional. Dalam konteks ini, edukasi keuangan, dorongan konsumsi produk lokal, dan penguatan sektor informal menjadi bagian dari strategi menjaga daya beli dan stabilitas sosial.
“Kebijakan ekonomi tidak boleh eksklusif untuk kalangan elit ekonomi tetapi harus menyentuh akar rumput dan memperkuat fondasi ekonomi rakyat,” tutur Syafruddin.
Editor: Arnoldus Kristianus
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






