Jumat, 15 Mei 2026

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diperkirakan Tak Sampai 5%

Penulis : Arnoldus Kristianus
4 Mei 2025 | 19:38 WIB
BAGIKAN
Sejumlah alat berat dioperasikan untuk menyelesaikan pembangunan gedung bertingkat di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, belum lama ini. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
Sejumlah alat berat dioperasikan untuk menyelesaikan pembangunan gedung bertingkat di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, belum lama ini. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

JAKARTA, investor.id – Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2025 diperkirakan hanya akan mencapai 4,91%. Angka ini lebih lemah dari pertumbuhan ekonomi dari kuartal IV-2024 yang sebesar 5,02% maupun kuartal I-2024 yang sebesar 5,11%.

Kondisi tersebut sejalan dengan data makroekonomi, survei pelaku usaha dan konsumen, serta indikator sektor riil yang menunjukkan tekanan domestik maupun eksternal.

“Secara keseluruhan, proyeksi pertumbuhan kuartal I-2025 sebesar 4,91% mencerminkan kombinasi dari konsumsi yang masih solid namun melemah, belanja pemerintah yang tertahan, serta investasi dan ekspor yang belum sepenuhnya pulih akibat tekanan global,” ucap Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede pada Minggu (4/5/2025).

ADVERTISEMENT

Josua mengatakan, konsumsi rumah tangga, sebagai penopang utama perekonomian, pada kuartal I-2025 diperkirakan hanya tumbuh 4,5% secara year on year (yoy) atau melambat dari 4,91% pada kuartal I-2024. Belanja pemerintah pada kuartal I-2025 diperkirakan mengalami kontraksi -2,88% yoy, berbanding terbalik dengan kondisi pada kuartal I-2024 yang sebesar 20,44%.

“Hal ini tercermin dalam realisasi APBN hingga Maret 2025 yang mencapai 17,1% dari pagu belanja tahunan,” kata dia.

Sementara komponen investasi diperkirakan tumbuh 3,11% yoy, relatif stabil, ditopang oleh realisasi investasi riil yang meningkat 15,9% yoy pada kuartal I-2025 menjadi Rp 465,2 triliun. Sedangkan ekspor barang dan jasa tumbuh kuat 9,52% yoy, melanjutkan tren positif berkat hilirisasi dan ekspor manufaktur bernilai tambah.

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diperkirakan Tak Sampai 5%
Ilustrasi: Investor Daily

Namun, impor juga naik 5,07% yoy, yang mencerminkan permintaan domestik yang belum pulih sepenuhnya. Ketidakpastian eksternal, khususnya tarif dagang Amerika Serikat (AS) dan prospek perlambatan global, menambah risiko terhadap outlook jangka pendek.

“Dalam konteks ini, koordinasi kebijakan moneter dan fiskal menjadi kunci untuk menjaga stabilitas dan mendorong pemulihan permintaan domestik di kuartal-kuartal berikutnya,” terang Josua.

Biang Kerok

Pada kesempatan tersepisah, Koordinator Analis Laboratorium Indonesia 45, Reyhan Noor mengatakan, pertumbuhan ekonomi domestik masih terganggu oleh upaya realokasi dari efisiensi ke program prioritas yang belum dapat terlaksana dengan maksimal.

Misalnya pelaksanaan Makan Bergizi Gratis tadinya diharapkan dapat memiliki efek berganda tetapi implementasinya belum optimal untuk meningkatkan konsumsi sedangkan komposisi belanja pemerintah pasti mengalami penurunan akibat efisiensi.

Selain itu, meskipun perekonomian ekonomi Indonesia tidak banyak bergantung terhadap perdagangan internasional, ketidakpastian ekonomi akibat kebijakan tarif AS akan mempengaruhi realisasi komponen investasi sekitar 30% dan aspek konsumsi sebesar 54% dengan adanya kenaikan harga serta pekerjaan yang semakin sulit.

Oleh karena itu, pemerintah perlu mengurangi ketidakpastian tersebut dimulai dari kebijakan yang terarah, terkoordinasi, dan dikomunikasikan dengan jelas.

“Hal tersebut termasuk dalam konteks negosiasi tarif perdagangan dengan Amerika Serikat yang jangan sampai berdampak terhadap hubungan dagang dengan negara lainnya dan daya saing dunia usaha dalam negeri,” kata Reyhan.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 22 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 23 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 1 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia