Ekonomi Melambat, Istana: Bukan Hanya Karena Efisiensi Belanja
JAKARTA, investor.id – Istana melalui Kementerian Sekretariat Negara (Kemensesneg) memberi pandangan terkait pelemahan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2025. Istana memandang terjadinya pelemahan ekonomi karena banyak faktor, bukan faktor tunggal seperti efisiensi belanja pemerintah.
Seperti dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi kuartal I-2025 mencapai 4,87%. Perekonomian Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp 5.695,9 triliun dan atas dasar harga konstan mencapai Rp 3.264.5 triliun pada kuartal I-2025.
Jika dibandingkan dengan kuartal IV-2024, perekonomian Indonesia terkontraksi 0,98%. Menanggapi kondisi tersebut, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi mengatakan bahwa pelemahan ekonomi Indonesia di awal tahun ini akibat banyak faktor dan masalah global yang tengah melanda di beberapa negara.
“Memang betul terjadi penurunan sedikit tetapi kita mesti memahami bahwa pertumbuhan ekonomi itu tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor tertentu. Belanja pemerintah adalah bagian dari salah satu faktor, iya, namun kebijakan dari negara-negara sahabat dan ketegangan dan konflik sejumlah negara juga mempengaruhi,” ungkapnya kepada awak media di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (9/5/2025).
Meski ikut memengaruhi, Prasetyo mengatakan bahwa belanja negara bukanlah satu-satunya faktor yang menahan laju ekonomi. Dia mengakui bahwa memang pemerintah menahan belanja karena kebijakan efisiensi. Tapi kebijakan efisiensi itu juga punya maksud lebih jauh yakni memastikan belanja bisa optimal di masa mendatang.
“Mohon tidak hanya dari satu sudut pandang karena dan dikait-kaitkan dengan proses efisiensi. Kalau saudara-saudara tengok proses efisiensi itu kan ada yang namanya realokasi anggaran yang diarahkan untuk kegiatan-kegiatan yang lebih produktif,” kata Prasetyo.
Menurut dia, efisiensi belanja yang dijalankan pemerintah telah membuahkan hasil, salah satunya di bidang pertanian dari program swasembada pangan. Ia mengklaim bahwa sejumlah sektor lain juga mencatatkan pertumbuhan dan kontribusi yang positif ke pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Prasetyo mengingatkan, ekonomi Indonesia turut dihantam gejolak ekonomi global, konflik antarnegara yang tak kunjung selesai dan bahkan makin memburuk karena konflik India-Pakistan. Penurunan harga komoditas juga tak bisa diabaikan karena memengaruhi kinerja ekspor.
“Maka berkali-kali yang ingin kami sampaikan yang presiden selalu menekankan seluruh pihak di negara harus memahami itu dan kemudian menyadari untuk kita harus bersatu padu apalagi terutama masalah ekonomi,” ujar Prasetyo.
Dia menambahkan, masalah ekonomi tidak bisa berdiri sendiri, melainkan banyak yang mempengaruhi. Sehingga diharapkan seluruh sektor usaha, industri, pekerja, serikat pekerja harus bersama-sama mencari titik temu yang pas untuk menjaga fundamental kekuatan ekonomi negara.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast
Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di IndonesiaBERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Tag Terpopuler
Terpopuler






