BPS Ubah Format Pelaporan Ekspor-Impor, akan Disampaikan Setiap Awal Bulan
JAKARTA, investor.id – Badan Pusat Statistik (BPS) akan melaporkan data ekspor dan impor setiap awal bulan, pada tanggal 1 atau hari kerja pertama setiap bulan. Data yang disampaikan akan memiliki jeda periode (reference period) selama 31-32 hari sebelumnya. Kebijakan ini akan dilakukan mulai 2 Juni 2025 untuk laporan data ekspor-impor April 2025.
Sebelumnya, BPS menunda rilis neraca perdagangan April 2025. Selama ini, rilis neraca perdagangan diumumkan pada tanggal 15 setiap bulan. Sementara Direktur Statistik Distribusi BPS, Sarpono di Jakarta pada Rabu (28/5/2025) menyampaikan, BPS secara rutin akan merilis angka tetap perkembangan ekspor impor di setiap awal bulan.
“Sebagai bentuk komitmen BPS untuk menghadirkan data yang berkualitas, BPS tidak lagi merilis angka sementara perkembangan ekspor-impor yang biasanya dikeluarkan setiap tengah bulan,” ujar Sarpono, seperti dikutip dari Antara.
Dia menerangkan, angka neraca perdagangan—yang berisi data ekspor-impor—didapatkan dari hasil kompilasi dokumen yang telah mengakomodasi beberapa nota pembetulan. Nantinya, data akan lebih akurat sesuai dengan laporan eksportir dan importir serta cakupan yang lebih lengkap seperti PT Kantor Pos dan Pendataan BPS di Perbatasan.
Selama ini BPS merilis data dengan angka sementara, di mana data yang dirilis dikeluarkan setiap tanggal 15 setiap bulan. Angka sementara ini, merupakan kompilasi dari dokumen yang dilaporkan oleh eksportir dan importir selama bulan periode data. Angka tersebut dirilis dengan menitikberatkan pada aspek kecepatan rilis data.
Di sisi lain, Sarpono mengungkapkan, BPS akan menyampaikan data ekspor-impor dalam bentuk kumulatif. Data kumulatif akan mudah untuk diinterpretasikan karena pembanding waktu yang sama dari periode tahun sebelumnya dapat lebih menggambarkan kinerja dan perdagangan internasional.
Dia menjelaskan bahwa data bulanan ekspor-impor cenderung lebih rawan terhadap bias musiman, jumlah hari, adanya momentum hari besar dan faktor serupa lainnya. “Penyajian data bulanan lebih cenderung bergejolak atau volatile akan lebih sulit untuk diinterpretasikan maknanya,” demikian jelas Sarpono.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Tag Terpopuler
Terpopuler






