Jumat, 15 Mei 2026

Pertumbuhan Ekonomi 5,8% Ibarat Mimpi di Siang Bolong

Penulis : Arnoldus Kristianus
4 Jul 2025 | 20:51 WIB
BAGIKAN
Foto ilustrasi. Sejumlah pekerja membongkar sebagian instalasi panggung di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Jumat (4/7/2025) sore. (B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)
Foto ilustrasi. Sejumlah pekerja membongkar sebagian instalasi panggung di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Jumat (4/7/2025) sore. (B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)

JAKARTA, investor.id – Langkah pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2% sampai 5,8% dalam Kerangka Ekonomi Makro Pokok Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2025 dinilai terlalu optimis. Lantaran saat ini perekonomian dunia sedang berada dalam tren perlambatan, sehingga target pertumbuhan ekonomi yang dipatok tinggi menjadi tak realistis karena tanpa pijakan kuat.

“Dalam konteks ini, menargetkan hingga 5,8% tanpa reformasi struktural besar akan menjadi mimpi siang bolong. Kita tidak boleh terpaku pada narasi keunggulan komparatif masa lalu tanpa membenahi fondasi ekonomi yang rapuh,” kata Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi saat dihubungi pada Jumat (4/7/2025).

Menurut dia, ada kontradiksi besar antara ambisi dan eksekusi kebijakan. Pemerintah terus menargetkan pertumbuhan tinggi, tetapi realisasi belanja negara selalu menghadapi persoalan klasik seperti penyerapan rendah, kualitas belanja yang buruk, serta proyek-proyek yang gagal tepat sasaran.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, investasi publik belum benar-benar produktif. Infrastruktur dibangun tanpa dukungan sektor riil yang kuat, dan koordinasi antar kementerian belum optimal.

“Pemerintah harus terlebih dahulu menyelesaikan masalah efektivitas belanja dan kualitas proyek jika ingin pertumbuhan yang ditargetkan tidak sekadar menjadi formalitas anggaran,” terang Syafruddin.

Pertumbuhan Ekonomi 5,8% Ibarat Mimpi di Siang Bolong
Ilustrasi: Investor Daily

Syafruddin menuturkan, tanpa dan strategi yang jelas maka target 5,8% terlihat seperti angka yang tak lebih disasar karena kepentingan politis, bukan teknokratis. Bila tanpa aksi konkrit, maka risiko pertumbuhan semu sangat nyata.

Apalagi, selama ini pemerintah terlalu lama bergantung pada konsumsi rumah tangga dan pembiayaan utang untuk memutar roda ekonomi. Padahal, pertumbuhan ekonomi yang ideal lahir dari peningkatan produktivitas, inovasi, dan transformasi struktural di sektor industri dan pertanian.

“Jika pertumbuhan hanya digerakkan oleh APBN dan pinjaman luar negeri, kita sedang membangun rumah di atas pasir. Pemerintah harus berhenti mengejar pertumbuhan angka dan mulai mendorong pertumbuhan kualitas: dengan memperkuat industrialisasi, memacu teknologi, dan membuka ruang bagi hilirisasi yang inklusif,” terang Syafruddin.

Pertumbuhan Ekonomi 5,8% Ibarat Mimpi di Siang Bolong
Proyeksi ekonomi beberapa negara tahun 2025. (Ilustrasi: Investor Daily, B-Universe Research)

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan pihaknya memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2026 berada dalam rentang 4,7% sampai 5,5%. Angka itu praktis di bawah sasaran KEM-PPKF. Kondisi perekonomian tahun 2026 tidak terlepas dari dampak perlambatan ekonomi global terhadap laju perekonomian domestik.

“Pada tahun 2026 kami perkirakan pertumbuhan ekonomi sekitar 4,7 sampai dengan 5,5%%. Kami perkirakan perlambatan ekonomi global akan menyebabkan penurunan kinerja ekspor barang dan jasa,” terang Perry.

Dia mengatakan sektor-sektor yang mendorong pertumbuhan ekonomi adalah sektor berorientasi ekspor baik pertanian khususnya kelapa sawit maupun sektor pertambangan untuk ekspor pertambangan.

Pada saat yang sama, sektor-sektor yang berorientasi permintaan domestik juga membaik termasuk sektor konstruksi, transportasi, dan pergudangan serta perdagangan besar dan eceran. Sektor yang ikut mendorong pertumbuhan ekonomi adalah sektor jasa seperti informasi dan komunikasi, jasa keuangan dan asuransi, jasa pembidikan dan jasa lainnya.

“Kami memandang bahwa pertumbuhan akan dalam kisaran ini akan bisa diangkat ke tingkat yang lebih tinggi dalam kisaran perkiraan tersebut,” pungkas Perry.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 3 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 4 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia