Serikat Pekerja Minta Pemerintah Prioritaskan Kesejahteraan Buruh dalam RAPBN 2026
JAKARTA, investor.id – Asosiasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (Aspirasi) mendesak pemerintah memasukkan kebijakan terkait ketenagakerjaan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026. Aspirasi juga berharap kebijakan kesejahteraan buruh menjadi prioritas dalam Nota Keuangan yang akan disampaikan Presiden Prabowo Subianto pada 16 Agustus 2025.
Presiden Aspirasi, Mirah Sumirat menegaskan bahwa momen ini sangat penting bagi pemerintah untuk menunjukkan keberpihakan nyata kepada jutaan pekerja yang menjadi penggerak ekonomi nasional.
“Kesejahteraan pekerja bukan sekadar isu moral, melainkan fondasi utama bagi pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan dan berkeadilan,” tegas Mirah dalam keterangan resmi yang diterima pada Rabu (14/8/2025).
Di samping itu, Aspirasi menyampaikan tujuh poin utama yang menjadi tuntutan para pekerja. Pertama, perlindungan daya beli. Pemerintah harus mengendalikan harga kebutuhan pokok, energi, dan transportasi untuk menjaga daya beli buruh dari dampak inflasi.
Kedua, kebijakan pengupahan adil. Penetapan upah minimum harus berbasis Kebutuhan Hidup Layak (KHL). “Penetapan upah minimum harus berbasis Kebutuhan Hidup Layak (KHL), bukan semata angka inflasi dan pertumbuhan ekonomi,” terang Mirah.
Baca Juga:
Jalan Terjal Pengelolaan APBN 2026Ketiga yaitu penciptaan lapangan kerja harus menjamin kerja layak (decent work), serta membatasi praktik outsourcing dan kontrak jangka pendek yang merugikan pekerja. Keempat, memperkuat jaminan sosial melalui peningkatan layanan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan, termasuk subsidi iuran bagi pekerja berpenghasilan rendah, menjadi kebutuhan mendesak.
Kelima, memberikan perlindungan pekerja migran dan informal. Dalam hal ini diperlukan komitmen perlindungan bagi pekerja migran serta pemberdayaan pekerja sektor informal agar naik kelas harus dipertegas.
Keenam, pemerintah menjalankan kebijakan ketenagakerjaan strategis harus melibatkan serikat pekerja secara aktif sejak tahap perumusan. Ketujuh, pemerintah harus menghadirkan kesesuaian kurikulum pendidikan dengan kebutuhan industri. Salah satu persoalan ketenagakerjaan saat ini adalah banyak lulusan SMK/sederajat maupun universitas yang tidak terserap industri karena kompetensi mereka tidak sesuai kebutuhan pasar kerja (link and match).
“Aspirasi berharap tujuh poin ini dapat menjadi prioritas Presiden dalam penyusunan kebijakan ekonomi dan ketenagakerjaan, serta tercermin jelas dalam pidato Nota Keuangan 16 Agustus 2025,” tutur Mirah.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






