Jumat, 15 Mei 2026

RAPBN 2026 Cukup Ekspansif, tapi Cenderung Eksperimental

Penulis : Vinnilya Huanggrio
21 Aug 2025 | 14:55 WIB
BAGIKAN
Kepala Center of Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman dalam diskusi. (ANTARA/M. Baqir Idrus Alatas)
Kepala Center of Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman dalam diskusi. (ANTARA/M. Baqir Idrus Alatas)

 JAKARTA, investor.id – Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 yang diusulkan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dinilai ekspansif, namun cenderung bersifat eksperimental. Anggaran ini mengalokasikan belanja besar untuk program-program populis di tengah ruang fiskal yang semakin terbatas.

Menurut RAPBN 2026, pendapatan negara ditargetkan sebesar Rp 3.147,7 triliun, sementara belanja negara mencapai Rp 3.786,5 triliun. Hal ini menciptakan defisit sebesar Rp 638,8 triliun, atau sekitar 2,48% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman mengatakan bahwa alokasi belanja yang besar pada program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, dan Swasembada Pangan, dapat menjadi kebijakan populis yang berisiko.

“Satu sisi ingin mendorong pertumbuhan melalui belanja, di sisi lain ruang fiskalnya makin sempit akibat kewajiban subsidi, bunga utang, dan transfer daerah. Potensinya bisa menjadi kebijakan populis sekaligus eksperimental,” ujar Rizal dalam Investor Daily Talk, Rabu (20/8/2025).

ADVERTISEMENT
RAPBN 2026 Cukup Ekspansif, tapi Cenderung Eksperimental
Postur RAPBN 2026. (Ilustrasi: Investor Daily)

Rizal menyoroti bahwa alokasi anggaran saat ini belum sepenuhnya efisien karena porsi belanja rutin masih mendominasi, sementara sektor produktif seperti infrastruktur dan riset belum mendapat porsi yang signifikan.

Selain itu, ia juga mengkritik pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD) dari Rp 929 triliun di 2025 menjadi Rp 650 triliun pada 2026. Menurutnya, ini adalah angka terendah sejak 2021 dan berpotensi memperlebar kesenjangan ekonomi antarwilayah.

Rizal menilai target pertumbuhan ekonomi tahun 2026 sebesar 5,4% terlalu ambisius, mengingat realisasi pertumbuhan dalam satu dekade terakhir selalu berada di bawah target APBN.

Untuk mengantisipasi potensi risiko ke depan, ia merekomendasikan pemerintah untuk memperkuat penerimaan non-pajak dari sumber daya alam, melakukan tinjauan pengeluaran (spending review), dan memastikan program prioritas memiliki efek berganda (multiplier effect) yang nyata bagi perekonomian.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia