RAPBN 2026 Cukup Ekspansif, tapi Cenderung Eksperimental
JAKARTA, investor.id – Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 yang diusulkan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dinilai ekspansif, namun cenderung bersifat eksperimental. Anggaran ini mengalokasikan belanja besar untuk program-program populis di tengah ruang fiskal yang semakin terbatas.
Menurut RAPBN 2026, pendapatan negara ditargetkan sebesar Rp 3.147,7 triliun, sementara belanja negara mencapai Rp 3.786,5 triliun. Hal ini menciptakan defisit sebesar Rp 638,8 triliun, atau sekitar 2,48% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman mengatakan bahwa alokasi belanja yang besar pada program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, dan Swasembada Pangan, dapat menjadi kebijakan populis yang berisiko.
“Satu sisi ingin mendorong pertumbuhan melalui belanja, di sisi lain ruang fiskalnya makin sempit akibat kewajiban subsidi, bunga utang, dan transfer daerah. Potensinya bisa menjadi kebijakan populis sekaligus eksperimental,” ujar Rizal dalam Investor Daily Talk, Rabu (20/8/2025).
Baca Juga:
RAPBN 2026 Kurang EkspansifRizal menyoroti bahwa alokasi anggaran saat ini belum sepenuhnya efisien karena porsi belanja rutin masih mendominasi, sementara sektor produktif seperti infrastruktur dan riset belum mendapat porsi yang signifikan.
Selain itu, ia juga mengkritik pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD) dari Rp 929 triliun di 2025 menjadi Rp 650 triliun pada 2026. Menurutnya, ini adalah angka terendah sejak 2021 dan berpotensi memperlebar kesenjangan ekonomi antarwilayah.
Rizal menilai target pertumbuhan ekonomi tahun 2026 sebesar 5,4% terlalu ambisius, mengingat realisasi pertumbuhan dalam satu dekade terakhir selalu berada di bawah target APBN.
Untuk mengantisipasi potensi risiko ke depan, ia merekomendasikan pemerintah untuk memperkuat penerimaan non-pajak dari sumber daya alam, melakukan tinjauan pengeluaran (spending review), dan memastikan program prioritas memiliki efek berganda (multiplier effect) yang nyata bagi perekonomian.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






