Jumat, 15 Mei 2026

Celios: Pemangkasan TKD Picu Gejolak Sosial

Penulis : Maria Gabrielle Putrinda
25 Aug 2025 | 14:36 WIB
BAGIKAN
Massa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Pati Bersatu berunjuk rasa di depan Kantor Bupati Pati, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Rabu (13/8/2025). (ANTARA FOTO/Aji Styawan)
Massa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Pati Bersatu berunjuk rasa di depan Kantor Bupati Pati, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Rabu (13/8/2025). (ANTARA FOTO/Aji Styawan)

JAKARTA, investor.id – Pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD) menjadi Rp 650 triliun pada 2026 berpotensi menimbulkan tekanan signifikan bagi pemerintah daerah (pemda). Akibat terbatasnya anggaran, pemda didorong untuk mencari sumber penerimaan lain, salah satunya dengan menaikkan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

Direktur Eksekutif dan Founder Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira menilai kebijakan ini dapat memicu gejolak sosial di berbagai daerah.

"Tahun depan, efek pemangkasan transfer daerah akan menimbulkan tekanan pada pemda untuk mencari penerimaan instan," kata Bhima saat dihubungi, dikutip pada Senin (25/8/2025).

Bhima menambahkan, berdasarkan Indeks Kapasitas Fiskal Daerah 2024, tercatat ada 152 kabupaten/kota dengan kapasitas fiskal rendah dan 58 kabupaten/kota dengan kapasitas fiskal sangat rendah. Hal ini menunjukkan bahwa sebelum adanya efisiensi anggaran, sebanyak 41,3% pemda sudah berstatus fiskal rentan.

ADVERTISEMENT

“Ditambah tekanan efisiensi dan sentralisasi fiskal dari pusat, bisa jadi gejolak di berbagai daerah. Apa yang terjadi di Pati soal kenaikan PBB akan diikuti oleh berbagai daerah dan menimbulkan gejolak penolakan di masyarakat,” terang Bhima.

Menurut Bhima, alih-alih menaikkan PBB dan membebani masyarakat, pemda seharusnya fokus pada cara lain untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Solusi yang bisa dilakukan adalah menutup kebocoran pajak dan retribusi daerah, termasuk dari parkir liar.

Selain itu, pemda juga dapat mengoptimalkan pajak dari Sumber Daya Alam (SDA) dan memanfaatkan Dana Bagi Hasil (DBH) SDA untuk diversifikasi ekonomi. “Pemda juga bisa mengembangkan ekonomi kreatif, perikanan berkelanjutan, dan pengolahan hasil pertanian,” pungkas Bhima.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia