Perang Rusia-Ukraina Pecah, Sentimen Positif Internal Tak Kuat Topang Rupiah
JAKARTA, investor.id - Skala perang yang meluas di Ukraina karena rudal terus menyerang ibu kotanya di Kyiv dan bandaranya direbut oleh pasukan udara Rusia membuat mata uang Rupiah loyo.
Analis pasar uang dari Monex Investindo Futures Faisal mengatakan, Rupiah berpotensi melemah karena pasar saat ini sedang manjauhi aset-aset berisiko. Hal tersebut hanya karena genderang perang Rusia-Ukraina yang makin kencang. Padahal, sentimen domestik sedang dalam kondisi bagus-bagusnya seiring capital inflow yang terus menguat.
“Saya rasa tren pelemahan Rupiah akan masih berlangsung selama perang terjadi atau selama rusia tidak menarik pasukannya,” katanya kepada Investor Daily, Kamis (24/2).
Faisal memperkirakan, dalam jangka pendek rupiah akan menguji support Rp 14.320 per US$ dan resistance di Rp 14.200–14.420 per US$.
Senada, Pengamat Pasar Uang Ariston Tjendra mengatakan, bila perang meluas karena Pakta Pertahanan Atlantik Utara (North Atlantic Treaty Organization/NATO) juga ikut campur, kekhawatiran pasar akan meninggi dan pasar akan reli meninggalkan aset berisiko termasuk aset di negara emerging seperti Indonesia dan masuk ke aset aman seperti Dolar AS, emas, Yen Jepang dan Franc Swiss.
“Rupiah mungkin bisa mendekati Rp 14.500 terhadap Dolar AS, bila perang meluas,” katanya.
Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, dalam perdagangan sore ini, Rupiah ditutup melemah 54 poin walaupun sebelumnya sempat melemah 60 poin di level Rp 14.391 dari penutupan sebelumnya di level Rp 14.337. Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuasi namun ditutup melemah direntang Rp 14.370-14.420.
Adapun, sentimen dalam negeri di mana realisasi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) pada bulan Januari mengalami surplus sebesar Rp 28,9 triliun atau melonjak sekitar 163,5% dibandingkan tahun lalu yang mengalami defisit sebesar Rp 45,5 triliun tidak mampu mengangkat Rupiah. Surplus APBN ini didorong oleh penerimaan pajak yang mencapai 59,39 persen atau secara tahunan menjadi Rp 109,1 triliun, dibandingkan pada tahun lalu yaitu sebesar Rp 69,45 triliun.
Sementara itu, di eksternal, Dolar AS menguat terhadap mata uang lainnya setelah Ukraina mengumumkan keadaan darurat dan Rusia mengirim pasukan ke Ukraina timur. Separatis di Donbass Ukraina (Donbas) meminta bantuan Rusia dalam memukul mundur "agresi" pada hari Rabu. Ukraina menanggapi dengan mengumumkan wajib militer dan keadaan darurat.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China
Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya
Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karatDuit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast
Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di IndonesiaBERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.Tag Terpopuler
Terpopuler






