Dolar AS Naik Tipis, Laju Penguatan Rupiah Terhenti Jelang Pengumuman BI
JAKARTA, investor.id - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu pagi melemah 14 poin atau 0,09 persen ke posisi Rp15.478 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp15.464 per dolar AS. Di sisi lain, pelaku pasar juga masih mengantisipasi hasil RDG BI pada Kamis (20/10/2022) esok.
Sedangkan, dolar AS sedikit menguat terhadap sekeranjang mata uang lainnya pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), menghentikan beberapa pelemahan sesi sebelumnya, tetapi kebangkitan selera risiko di pasar keuangan global membatasi kenaikannya.
"Getaran risk on (pengambilan risiko) kemarin tampaknya akan berlanjut ke sesi hari ini," kata Michael Brown, kepala intelijen pasar di perusahaan pembayaran Caxton di London.
Menteri Keuangan baru Inggris Jeremy Hunt pada Senin (17/10/2022) membatalkan rencana ekonomi Perdana Menteri Liz Truss, yang telah melemahkan kepercayaan investor di Inggris dalam beberapa pekan terakhir.
Pembalikan dari rencana fiskal Inggris mendorong reli di aset-aset berisiko, termasuk di Wall Street. Keuntungan pasar saham AS juga didorong oleh pendapatan perusahaan yang kuat dari Goldman Sachs dan Johnson & Johnson.
Keputusan menteri keuangan Inggris untuk membalikkan sebagian besar "anggaran mini" pemerintah mendorong investor untuk menilai kembali prospek suku bunga Inggris dan mengirim pound sterling 0,4 persen lebih rendah hari ini menjadi 1,1316 dolar.
Bank sentral Inggris (BoE) mengatakan pada Selasa (18/10/2022) akan melanjutkan rencana untuk mulai menjual sebagian besar dari stok obligasi pemerintah dengan penjualan pertama pada 1 November, sehari lebih lambat dari yang direncanakan sebelumnya untuk menghindari bentrokan dengan pernyataan fiskal pemerintah.
Bulan lalu, pergolakan pasar yang disebabkan oleh anggaran mini pemotongan pajak pemerintah yang sekarang ditinggalkan, mendorong BoE untuk memulai putaran pembelian obligasi darurat dan mendorong kembali dimulainya penjualan 'pengetatan kuantitatif' (QT) dari 6 Oktober hingga 31 Oktober.
Terhadap sekeranjang mata uang, dolar naik 0,07 persen pada 112,15, setelah sebelumnya tergelincir ke level terendah dua minggu di 111,76. Indeks, yang turun 1,0 persen di sesi sebelumnya, tetap hanya 2,0 persen di bawah level tertinggi dua dekade di 114,58 yang disentuh pada akhir September.
"Dengan The Fed tetap menjadi salah satu bank sentral G10 yang paling hawkish, dan risiko penurunan terhadap prospek terus meningkat. Saya tetap bullish pada dolar AS dalam jangka menengah," kata Brown dari Caxton.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






