Jumat, 15 Mei 2026

Yield Obligasi AS Meningkat, Rupiah Koreksi

Penulis : Grace El Dora
2 Mar 2023 | 16:27 WIB
BAGIKAN
Petugas menghitung uang dolar Amerika Serikat di BNI KC Mega Kuningan, Jakarta. (Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/tom)
Petugas menghitung uang dolar Amerika Serikat di BNI KC Mega Kuningan, Jakarta. (Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/tom)

JAKARTA, investor.id – Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis (2/3) terkoreksi, didorong meningkatnya imbal hasil atau yield obligasi Amerika Serikat (AS).

Rupiah pada Kamis ditutup merosot 46 poin atau 0,30% ke posisi Rp 15.281 per dolar AS, dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp 15.235 per dolar AS.

“Dari faktor eksternal terkait isu ekspektasi inflasi AS yang masih tinggi dan yield obligasi AS yang meningkat,” kata analis Bank Woori Saudara Rully Nova, dilansir dari Antara, Kamis.

ADVERTISEMENT

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun mencapai tertinggi baru empat bulan di 4,0160%, setelah mencapai 4,0% semalam. Imbal hasil obligasi AS dengan tenor dua tahun juga naik ke 4,9080%, tertinggi baru dalam 15 tahun.

Di AS, aktivitas manufaktur mengalami kontraksi selama empat bulan berturut-turut pada Februari 2023. Tetapi ukuran harga bahan baku meningkat bulan lalu, memicu kekhawatiran inflasi akan tetap memanas.

Sebagian besar investor masih memperkirakan bank sentral AS atau Federal Reserve (Fed) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan berikutnya akhir bulan ini. Tetapi ekspektasi kenaikan 50 bps yang lebih besar telah meningkat.

Probabilitas suku bunga kebijakan Fed, yang saat ini ditetapkan di kisaran 4,5%-4,75%, dapat memuncak di atas kisaran 5,5% mencapai 53 persen, dibandingkan dengan 41,5% pada 28 Februari, menurut alat CME Fed.

Sedangkan dari faktor internal, Rully menuturkan tingkat inflasi Indonesia pada Februari 2023 lebih rendah daripada Januari 2023. Diharapkan, kondisi tersebut dan optimisme perekonomian Indonesia dapat menahan rupiah agar tak melemah terlalu dalam.

Badan Pusat Statistik (BPS) pada Rabu (1/3) melaporkan inflasi mencapai 0,16% secara bulanan (mtm) pada Februari 2023, lebih rendah dibandingkan pada Januari 2023 yang sebesar 0,34%.

Rupiah pada pagi hari dibuka melemah ke posisi Rp 15.263 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp 15.252 per dolar AS hingga Rp 15.289 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Kamis menurun ke posisi Rp 15.273 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya Rp 15.250 per dolar AS.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia