Kamis, 14 Mei 2026

Gawat, Asing Gencar Lepas Saham Empat Bank Besar

Penulis : Muhammad Ghafur Fadillah
17 Mar 2023 | 06:00 WIB
BAGIKAN
Total Volume Perdagangan. Pengunjung melintas di Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta.
Total Volume Perdagangan. Pengunjung melintas di Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta.

JAKARTA, Investor.id – Kasus kebangkrutan Silicon Valley Bank, Signature Bank, dan Silverbank di Amerika Serikat (AS) serta krisis likuiditas bank investasi kakap Credit Suisse (CS) membuat pemodal asing melepas empat saham bank besar di Indonesia, yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI/BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI/BBRI).

Seiring dengan itu, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ambles 0,9% atau 62,4 poin ke level 6.565,72. Bahkan, indeks sempat menyentuh level 6.542 pada sesi II perdagangan, sebelum akhirnya ditutup di 6.565. Saat ini, empat bank besar itu masuk 10 besar market cap di BEI sekaligus memiliki bobot tinggi terhadap IHSG.

Kejatuhan saham bank diperparah oleh koreksi besar saham-saham komoditas, yakni batu bara dan nikel. Ini tak lepas dari rontoknya harga dua komoditas andalan itu di pasar global. Saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) merosot 4% ke level Rp 2.640, sedangkan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) turun 3,5% ke level Rp 3.850.

Kemarin, asing net sell saham BBCA Rp 290 miliar, BMRI Rp 174 miliar, MDKA Rp 79 miliar, BBNI Rp 63 miliar, BBRI Rp 59 miliar, dan ADRO Rp 57 miliar. Total net sell asing kemarin mencapai Rp 732 miliar. Namun, secara year to date (ytd), asing masih net buy Rp 2,5 triliun.

ADVERTISEMENT

Aksi asing menjual saham bank terjadi di tengah solidnya kinerja fundamental dan rencana pembagian dividen dengan yield menggiurkan. Merespons hal ini, analis menyarankan pemodal untuk mencermati pergerakan saham-saham bank besar dan menunggu momentum tepat untuk masuk. 

Analis Infovesta Arjun Ajwani menjelaskan, kebangkrutan SVB jelas memberikan dampak buruk bagi saham empat bank besar, yakni BMRI, BBNI, BBCA dan BBRI yang memiliki bobot yang besar terhadap indeks. Alhasil, sentimen negatif itu mendorong investor asing melakukan aksi jual bersih.

"Selain itu, saham-saham big caps lainnya di sektor berbeda juga terpuruk, sehingga menambah tekanan ke indeks," jelas dia kepada Investor Daily, Kamis (16/3/23).

Dia menambahkan, selain dua kejadian besar tersebut, ketidakpastian kebijakan The Fed terkait kebijakan suku bunga membuat para jnvestor lebih memilih menempatkan dana di safe haven assets, seperti emas dan obligasi. Apalagi, pasar saham sedang volatile serta berisiko tinggi.

Dengan volatilitas yang terus meningkat, dia menyatakan, bukan tidak mungkin pelaku pasar akan mengalihkan sebagian aset ke surat utang negara (SUN). Hal ini sudah terjadi lantaran imbal hasil (yield) SUN 10 tahun menurun. Artinya, harga SUN naik sejalan dengan meningkatnya permintaan.

Dalam kondisi ini, Arjun merekomendasikan para investor untuk mengoleksi saham empat perbankan besar, karena memiliki fundamental sangat kuat, terlihat pada pertumbuhan pendapatan dan laba bersih yang konsisten dari tahun ke tahun. Selain itu, liquidity coverage ratio (LCR) empat bank besar sangat tinggi, sedangkan loan at risk (LAR) menurun.

Dia menambahkan, rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) empat bank besar rata-rata di bawah 5%. Level ini sangat aman dan manageable, terutama untuk bank besar yang likuid dan mapan. "Secara valuasi, empat saham bank besar murah, dibandingkan dengan perbankan lain," kata dia.

Risiko Sistemik

Sementara itu, Direktur Equator Swarna Investama Hans Kwee menilai, kebangkrutan SVB bakal memunculkan dua risiko. Pertama, risiko sistemik dan kebangkrutan SVB tersebut sebagai fenomena puncak gunung es.

"Jadi, pasar sekarang sedang memantau dengan seksama. Beberapa pelaku pasar menilai, regulasi di AS lemah. Karena itu, para pelaku pasar mengharapkan regulasi yang lebih ketat," jelas Hans.

Sebab, menurut Hans, sejak 2008, AS praktis tidak banyak menerbitkan regulasi baru. Kendati begitu, ukuran SVB hanya sepertiga dari Lehman Brothers, sehingga tidak akan signifikan terhadap perekonomian AS.

Sekalipun begitu, Hans menilai, kebangkrutan SVB perlu dilihat sebagai fenomena puncak gunung es atau bukan. Artinya, jika ini merupakan puncak gunung es, bisa dipastikan beberapa bank akan menyusul kolaps. Apalagi, The Fed tengah menaikkan suku bunga yang berpotensi menjadi sentimen negatif bagi perbankan dengan fundamental yang tidak kokoh.

Head of Investment Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe juga, mengatakan bangkrutnya SVB tidak akan berpengaruh signifikan. Sebab, SVB merupakan bukan bank besar layaknya JP Morgan atau Bank of America (BoA).

Editor: Harso Kurniawan

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 7 menit yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 16 menit yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 33 menit yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 1 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 2 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia