Kekhawatiran Krisis Perbankan Meluas, Rupiah Melemah
JAKARTA, investor.id – Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada awal perdagangan Senin (27/3) melemah, seiring kekhawatiran pasar terhadap meluasnya krisis perbankan meluas.
Rupiah pada Senin pagi dibuka turun 30 poin atau 0,19% ke posisi Rp 15.183 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp 15.153 per dolar AS.
“Nilai tukar rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS hari ini karena kekhawatiran pasar terhadap meluasnya krisis perbankan,” kata pengamat pasar uang Ariston Tjendra, Senin.
Ariston menuturkan kabar tentang naiknya biaya credit default swap (CDS) salah satu Bank Besar Eropa, Deutsche Bank, dikarenakan kekhawatiran gagal bayar (default) di tengah krisis perbankan.
Laporan ini terkait penarikan deposit oleh nasabah di bank-bank kecil AS, menambah kekhawatiran krisis perbankan masih berpotensi meluas.
Dilansir dari Antara, Ariston menyebutkan kondisi itu bisa mendorong pelaku pasar masuk ke aset aman lagi sehingga dapat membebani rupiah.
Kekhawatiran atas potensi penularan di luar bank regional yang mengancam untuk menyebar ke rekan-rekan mereka yang lebih besar dipicu oleh aksi jual saham bank Eropa.
Aksi jual itu didorong oleh meningkatnya biaya untuk mengasuransikan utang Deutsche Bank, yang ditunjukkan oleh CDS, telah masuk ke dalam narasi tekanan di seluruh sektor. Langkah ini muncul setelah pembelian Credit Suisse yang disponsori negara.
Saham perbankan global telah terpukul sepanjang bulan ini, setelah keruntuhan mendadak dua pemberi pinjaman AS dan penyelamatan bank Swiss Credit Suisse yang kesulitan minggu lalu. Pihak berwenang turun tangan untuk meredakan kegelisahan investor.
Selain itu, Ariston menuturkan penguatan rupiah terhadap dolar AS yang dalam pada perdagangan Jumat (24/3) di tengah kekhawatiran pasar, memunculkan peluang koreksi.
Di sisi lain, ekspektasi Federal Reserve (Fed) tidak akan agresif lagi menaikkan suku bunga acuannya tahun ini karena krisis perbankan di AS masih membantu mendongkrak nilai tukar lain terhadap dolar AS. Sehingga, jika kekhawatiran tentang krisis itu mereda, dolar AS bisa tertekan lagi.
Ariston memproyeksikan peluang tekanan rupiah ke arah Rp 15.200 per dolar AS, dengan potensi tertahan di kisaran Rp 15.100 per dolar AS.
Rupiah pada Jumat (24/3) ditutup naik 192 poin atau 1,25% ke posisi Rp 15.153 per dolar AS, dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp 15.345 per dolar AS.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






