Jumat, 15 Mei 2026

Bank Artha Graha (INPC) Bidik Kredit Tumbuh 11,38% di 2023

Penulis : Prisma Ardianto
4 Apr 2023 | 04:35 WIB
BAGIKAN
Artha Graha. Foto: panoramio.com
Artha Graha. Foto: panoramio.com

JAKARTA, investor.id - PT Bank Artha Graha Internasional Tbk (INPC) menargetkan pertumbuhan kredit perusahaan sebesar 11,38% di 2023. Proyeksi ini bagian dari optimisme perusahaan melanjutkan kinerja positif yang dicapai pada tahun lalu.

"Pertumbuhan kredit pada 2023 sebesar 11,38%. Pendorongnya pertumbuhan ekonomi, perekonomian Indonesia diperkirakan masih dapat tumbuh kira-kira 5,3% pada 2023 dan membaiknya permintaan domestik," ungkap Sekretaris Perusahaan Bank Artha Graha (INPC) Marlene Gunawan kepada Investor Daily, Senin (3/4/2023).

Di tahun lalu, kata dia, Bank Artha Graha telah melakukan berbagai kolaborasi dengan berbagai pihak ketiga yang dalam rangka peningkatkan kapabilitas perusahaan dalam aspek teknologi. Hal ini menjadi salah satu media untuk perusahaan dapat melakukan ekspansi bisnis, baik itu akuisisi nasabah baru maupun bisnis transaksi.

ADVERTISEMENT

"Aktivitas kerja sama bisnis didukung oleh pengembangan metode pembayaran yang lebih beragam untuk dapat digunakan oleh nasabah bank dalam bertransaksi di channel mitra," jelas Marlene.

Marlene menambahkan, pencapaian bisnis dan keuangan di tahun lalu optimistis dapat berlanjut di tahun ini. Hal tersebut sejalan dengan wacana dalam rencana bisnis bank. Sebagai gambaran, Bank Artha Graha di 2022 berhasil membukukan laba bersih Rp 54,99 miliar, berbalik dari rugi bersih Rp 168,06 miliar di 2021.

Pencapaian ini didukung beban bunga yang turun 35,87% year on year (yoy), dari Rp 766,26 miliar di 2021 menjadi Rp 491,34 miliar pada 2022. Sementara itu, pendapatan bunga relatif landai atau turun 6,00% (yoy) menjadi Rp 1,44 triliun.

Alhasil, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) melesat 23,81% (yoy) pada 2022 menjadi Rp 950,63 miliar. Dari sisi pendapatan lainnya, perusahaan mencatat provisi dan komisi lainnya yang menjadi bagian dari fee based income (FBI) sebesar Rp 29,05 miliar atau naik 32,46% (yoy) di tahun lalu.

Hal ini terefleksi dalam rasio beban terhadap pendapatan operasional (BOPO) bank dari 111,09% pada 2021 menjadi 96,26% di 2022. Didukung dengan perolehan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) yang naik dari 3,62% menjadi 4,79%.

Sementara itu, outstanding kredit Bank Artha Graha hingga akhir 2022 mencapai Rp 9,70 triliun, relatif melambat 11,45% (yoy). Hal ini juga yang memengaruhi perolehan total aset perusahaan susut tipis 2,64% (yoy) menjadi Rp 25,43 triliun.

Dari sisi penghimpunan dana, dana pihak ketiga (DPK) perusahaan juga menyesuaikan yang tercatat menyusut 3,34% (yoy) menjadi Rp 20,32 triliun di 2022. Dengan komposisi dana murah (current account saving account/CASA) senilai Rp 8,35 triliun atau 41,12%.

Ruang bagi perusahaan untuk ekspansif menyalurkan kredit masih cukup lebar, dimana loan to deposit ratio (LDR) 50,33%. Dengan rasio kredit bermasalah yang cukup terkendali sebesar 0,41%.

Selain itu, Bank Artha Graha memiliki rasio kewajiban penyediaan modal minimum/KPMM (capital adequacy ratio/CAR) di level 23,82%. Modal inti utama perusahaan juga telah mencapai Rp 3,35 triliun di akhir 2022. 

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 1 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 1 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 2 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 3 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia