Perbaikan Kinerja GOTO Dikebut, Sahamnya Bisa Ngacir Lagi?
JAKARTA, investor.id – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menargetkan pencapaian profitabilitas dan EBITDA yang disesuaikan secara positif pada kuartal IV-2023. Strategi yang diterapkan antara lain meningkatkan monetisasi, mengoptimalkan biaya, dan mengembangkan produk berbasis ekosistem.
“Untuk memaksimalkan monetisasi, kami memperkirakan GOTO akan meningkatkan tingkat pengambilan sebesar 30 bps per tahun hingga 2025. Peningkatan take rate dilakukan dengan penyesuaian tarif segmen on-demand dan kenaikan biaya platform segmen on-demand dan e-commerce, serta integrasi ekosistem digital,” tulis analis MNC Sekuritas Andrew Sebastian Susilo dalam risetnya.
Andrew mengungkapkan, GOTO juga berniat mengembangkan produk berbasis ekosistemnya dengan mengembangkan produk baru seperti GoPayLater Cicil dengan margin yang tinggi.
Selain itu, perusahaan diuntungkan dengan memiliki portofolio komprehensif dalam ekosistem digital, yang selanjutnya dapat meningkatkan monetisasi sekaligus mempertahankan loyalitas pelanggan yang cukup tinggi dibandingkan perusahaan sejenis.
“Likuiditas GOTO tidak boleh diremehkan. GOTO secara umum dipandang memiliki landasan kas terpendek hingga kecukupan 7 kuartal untuk mendanai operasi mereka. Meskipun demikian, kemampuan GOTO untuk memaksimalkan pendanaan melalui instrumen ekuitas lebih unggul mengingat lingkungan yang tidak bersahabat akhir-akhir ini,” sebut Andrew.
Baca Juga:
Blibli (BELI) Jual Seluruh Saham GOTODia menyebut, GOTO berhasil mencatatkan rasio gearing terendah. Faktanya, Sea telah menerima pendanaan melalui pembiayaan ekuitas dan utang, dengan 60% dari US$ 16 miliar yang diperoleh dalam lima tahun terakhir berasal dari nota konversi.
Sementara itu, Grab sebagian besar didanai melalui ekuitas, tetapi pada kuartal I-2021, Grab menerbitkan obligasi non-konversi senilai US$ 2 miliar dan membeli kembali sekitar US$ 850 juta. Dalam layanan bank digital, GOTO adalah pionirnya dengan memiliki 21,4% saham ARTO. Sedangkan Sea memiliki Seabank, dan Grab memiliki Bank Fama setelah bekerja sama dengan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK).
“Namun, secara permodalan, Seabank dan Bank Fama masih tergolong kecil dan dikategorikan sebagai bank KBMI I, berbeda dengan Bank Jago yang dikategorikan sebagai KBMI II,” jelas Andrew.
Baca Juga:
Dahsyatnya Efek GOTOEditor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Tag Terpopuler
Terpopuler






