Jumat, 15 Mei 2026

Rupiah Awal Pekan Melemah Tertekan Yield Obligasi AS

Penulis : Grace El Dora
10 Apr 2023 | 11:11 WIB
BAGIKAN
Pekerja menunjukkan uang dolar AS dan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta pada 5 Januari 2022. (Foto: ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj)
Pekerja menunjukkan uang dolar AS dan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta pada 5 Januari 2022. (Foto: ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj)

JAKARTA, investor.id – Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada awal pekan ini melemah, akibat naiknya imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (AS).

Rupiah menurut pantauan dari Antara pada Senin (10/4) pagi turun 11 poin atau 0,07% ke posisi Rp 14.923 per dolar AS, dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp 14.912 per dolar AS.

“Rupiah diperkirakan melemah karena naiknya imbal hasil obligasi AS menyusul rilis data penggajian nonpertanian (Non Farm Payroll/ NFP),” kata analis DCFX Futures Lukman Leong, Senin.

ADVERTISEMENT

Imbal hasil obligasi pemerintah AS dengan tenor dua tahun, yang biasanya bergerak sejalan dengan ekspektasi suku bunga, naik 13 basis poin (bps) menjadi 3,951%. Sedangkan imbal hasil obligasi tenor 10 tahun naik 8,8 bps menjadi 3,378%.

Menurut Lukman, kenaikan imbal hasil obligasi AS terjadi setelah data NFP terbaru menunjukkan sektor tenaga kerja Negeri Paman Sam itu masih ketat sehingga memicu kembalinya kekhawatiran akan kenaikan suku bunga yang lebih tinggi.

Data Departemen Tenaga Kerja AS pada Jumat (7/4) menunjukkan data NFP meningkat 236.000 pekerjaan bulan lalu, sedikit di bawah 239.000 yang diperkirakan oleh para ekonom dalam jajak pendapat Reuters.

Laporan yang diawasi ketat juga menunjukkan kenaikan upah tahunan melambat, tetapi tetap terlalu tinggi untuk konsisten dengan target inflasi bank sentral AS sebesar 2%.

Namun, kata Lukman, pelemahan rupiah akan terbatas pada hari ini dengan investor menantikan data cadangan devisa Indonesia yang diperkirakan kembali meningkat.

“Rupiah berpotensi berbalik menguat apabila data lebih baik dari perkiraan,” tambahnya.

Oleh karena itu, dia memprediksi kurs rupiah bergerak di kisaran Rp 14.875 per dolar AS hingga Rp 15.000 per dolar AS.

Pada Kamis (6/4) rupiah ditutup naik 20 poin atau 0,13% ke posisi Rp 14.912 per dolar AS, dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp 14.932 per dolar AS.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia