Kamis, 14 Mei 2026

Strategi Terkini Bukit Asam (PTBA) dan Prospek Sahamnya

Penulis : Ely Rahmawati
18 Mei 2023 | 13:33 WIB
BAGIKAN
Kegiatan usaha PT Bukit Asam Tbk (PTBA). (Foto: PTBA)
Kegiatan usaha PT Bukit Asam Tbk (PTBA). (Foto: PTBA)

JAKARTA, investor.id – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) tengah menghadapi risiko normalisasi harga batu bara, sehingga kinerja kuartal I-2023 tergerus. Meski demikian, perseroan akan memperkuat strategi untuk menghadapi tantangan tersebut guna mendongkrak profitabilitas tahun ini.

Dalam analyst meeting soal kinerja kuartal I-2023, manajemen Bukit Asam menyatakan bahwa strategi untuk mempercepat produksi masih berjalan sesuai rencana, dengan lebih banyak aktivitas penambangan akan dilakukan di Area Banko. Percepatan ini dilakukan, meskipun operasi Bukit Asam dipengaruhi oleh tantangan terkait cuaca pada awal tahun 2023.

“Upaya tersebut akan menghasilkan lonjakan biaya tunai jangka pendek. Meski menghadapi risiko normalisasi harga batu bara, Bukit Asam tetap optimistis mempertahankan tingkat profitabilitas,” ungkap tim RHB Sekuritas dalam risetnya.

ADVERTISEMENT

Manajemen Bukit Asam, menurut tim riset RHB Sekuritas, menganggap bahwa cuaca buruk yang berkepanjangan menyebabkan tertundanya kegiatan operasional, seperti misalnya anjloknya kereta akibat longsor. Produksi batu bara kuartal I-2023 mencapai 6,8 juta ton atau turun 27,7% (qoq), tapi naik 7,3% (yoy) atau setara 17% dari target setahun penuh 2023. Manajemen meyakinkan bahwa situasi telah kembali normal.

Emiten berkode saham PTBA tersebut juga mengintensifkan pre-stripping sebagai tindakan pencegahan keselamatan, karena lebih sedikit melakukan pengangkutan. Sementara, pola musiman menunjukkan biaya yang lebih tinggi selama kuartal IV-2022 hingga kuartal I-2023 dengan rasio pengupasan (stripping ratio/SR) sebesar 7,1 kali dibandingkan kuartal IV tahun lalu sebesar 6 kali.

“Manajemen meyakinkan bahwa situasi menjadi normal pada kuartal-kuartal mendatang. Namun, tantangan juga datang terkait royalti pemerintah yang lebih tinggi yakni 13% dibanding rata-rata selama 5 tahun terakhir yang sekitar 7%,” sebut tim riset RHB Sekuritas. 

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 7 menit yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 37 menit yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 48 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 2 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia