Jumat, 15 Mei 2026

Tak Bukukan Pendapatan, Emiten Ini Dipantau Khusus, Sahamnya Kena Suspensi 1,5 Tahun

Penulis : Thresa Sandra Desfika
27 Mei 2023 | 14:00 WIB
BAGIKAN
Karyawati melintas di Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta. (Foto ilustrasi: B-Universe Photo/Mohammad Defrizal)
Karyawati melintas di Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta. (Foto ilustrasi: B-Universe Photo/Mohammad Defrizal)

JAKARTA, investor.id - Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis daftar efek bersifat ekuitas dalam pemantauan khusus terbaru yang berlaku efektif 29 Mei 2023.

“Bursa menetapkan daftar efek bersifat ekuitas dalam pemantauan khusus berlaku efektif pada tanggal 29 Mei 2023,” tegas pengumuman BEI tertanggal 26 Mei 2023.

Pengumuman BEI menjelaskan bahwa penetapan itu menunjuk pada Peraturan Nomor II-S tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas Dalam Pemantauan Khusus dan dalam rangka memberikan perlindungan kepada investor terkait informasi fundamental dan/atau likuiditas perusahaan tercatat.

Update dari daftar teranyar adalah penambahan poin kriteria terhadap PT Aesler Grup Internasional Tbk (RONY). Dari sebelumnya hanya kriteria 7, kini ditambahkan pula kriteria 3.

ADVERTISEMENT

Kriteria 3 artinya tidak membukukan pendapatan atau tidak terdapat perubahan pendapatan pada laporan keuangan auditan dan/atau laporan keuangan interim terakhir dibandingkan dengan laporan keuangan yang disampaikan sebelumnya.

Sedangkan kriteria 7 adalah memiliki likuiditas rendah dengan kriteria nilai transaksi rata-rata harian saham kurang dari Rp 5 juta dan volume transaksi rata-rata harian sahm kurang dari 10.000 saham selama 6 bulan terakhir di pasar reguler.

Sementara itu, RONY tak mencatatkan pendapatan dalam laporan keuangan kuartal I-2023. Namun terdapat beban operasi Rp 455,94 juta. Kas dan bank akhir tahun (periode hingga 31 Maret 2023) Rp 198,6 juta. Jumlah aset Rp 5,89 miliar dan liabilitas Rp 1,79 miliar.

Pada tahun 2022, Aesler masih mencatatkan pendapatan Rp 7,82 miliar, tapi turun dari 2021 yang jumlahnya Rp 8,62 miliar. Perseroan membukukan rugi bersih tahun berjalan Rp 27,36 miliar.

Saham Disuspensi

Editor: Theresa Sandra Desfika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia