LPEM UI: Stabilisasi Rupiah Dibantu Neraca Transaksi Berjalan yang Positif
JAKARTA, investor.id – Lembaga Penyelidikan Ekonomi & Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) mengatakan neraca transaksi berjalan yang positif membantu dalam menjaga stabilisasi rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.
“Pada tahun 2022, Indonesia merupakan salah satu dari sedikit negara berkembang yang membukukan neraca berjalan positif. Surplus perdagangan tersebut telah berhasil meredam dampak pengetatan moneter yang dilakukan oleh (The Federal Reserve) The Fed,” kata ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky dalam laporan Indonesia Economic Outlook Q3-2023 di Jakarta baru-baru ini, dikutip Senin (7/8).
Surplus transaksi berjalan pada 2022 tercatat sebesar US$ 13,2 miliar atau 1,0% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Riefky mengatakan capaian tersebut lebih baik bila dibandingkan sejumlah negara berkembang lain yang justru mengalami defisit neraca berjalan seperti Thailand, Filipina, Brasil, dan Meksiko.
Surplus perdagangan juga membuat rupiah aman dari depresiasi akibat pengetatan moneter The Fed. Hal itu didukung ekspor yang lebih tinggi daripada impor, sehingga mengindikasikan lebih banyak likuiditas valuta asing di pasar.
Selain surplus neraca perdagangan, kinerja rupiah juga ditentukan oleh pasar keuangan.
Riefky menjelaskan Indonesia memiliki keuntungan dari menguatnya permintaan obligasi. Hal itu seiring dengan selisih imbal hasil (yield) antara obligasi pemerintah Indonesia dan obligasi US Treasury tetap cukup menarik, setelah episode pengetatan moneter yang kurang agresif oleh bank sentral AS.
“Untungnya, pasar keuangan Indonesia terus menunjukkan kinerja yang lebih baik pada triwulan II-2023,” tutur Riefky.
Jumlah total modal masuk ke Indonesia meningkat hampir dua kali lipat dari US$ 2,67 miliar pada akhir Maret 2023 menjadi US$ 5,29 miliar pada akhir Juni 2023.
Jeda kenaikan suku bunga oleh The Fed pada Juni juga terus menjaga modal masuk menjadi total US$ 5,48 miliar pada pertengahan Juli 2023.
Pasar keuangan yang relatif stabil juga tercermin dari cadangan devisa yang cukup sebesar, yakni US$ 137,5 miliar pada Juni dan US$ 137, 7 miliar pada Juli, menurut data terbaru yang dirilis Bank Indonesia (BI) hari ini.
Meski sedikit melemah dari US$ 139,3 miliar pada Mei, namun Riefky menyebut tingkat cadangan devisa saat ini masih cukup untuk mendukung ketahanan sektor eksternal.
Adapun posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor atau 6,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor, kata BI.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Tag Terpopuler
Terpopuler






