Harga Minyak Tertekan Oleh Penundaan Pertemuan OPEC+
JAKARTA, investor.id - Harga minyak tertekan dan turun ke zona US$ 76.79 per barel pada Kamis pagi (23/11/2023). Disebabkan oleh penundaan pertemuan OPEC+ dan meningkatnya stok minyak mentah AS menurut EIA.
Tim Research and Development ICDX menyebut, OPEC mengalami penundaan pertemuan yang sebelumnya dijadwalkan pada 26 November, tetapi diundur menjadi tanggal 30 November dikarenakan munculnya perselisihan terkait kuota produksi untuk anggota Afrika, termasuk negara-negara seperti Angola dan Nigeria.
Karena pada pertemuan Juni lalu, OPEC+ memutuskan untuk meningkatkan kuota UEA dan mengurangi target produksi Angola, Kongo, dan Nigeria, karena Angola dan Kongo telah memproduksi minyak di bawah target produksi mereka pada tahun 2024, sementara Nigeria mampu meningkatkan produksi di atas target karena membaiknya situasi keamanan di Delta Niger yang kaya minyak.
Namun, Angola, Kongo, dan Nigeria berupaya untuk meningkatkan kuota pasokan tahun 2024 mereka di atas tingkat sementara yang disepakati pada pertemuan OPEC+ bulan Juni. “Hal ini menjadi kejutan dan menyebabkan penurunan harga minyak pada awal sesi perdagangan setelah berita menyebar bahwa perselisihan tersebut melibatkan produsen minyak kecil di Afrika yang bukan eksportir terbesar dalam kelompok OPEC+,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Kamis (23/11/2023).
Sementara itu, Tim Research and Development ICDX menambahkan, di lepas pantai Louisiana, tumpahan minyak besar-besaran telah terjadi, menyebabkan lebih dari satu juta galon minyak mencemari Teluk Meksiko. US Coast Guard tengah melakukan pencarian sumber kebocoran, dan sebagai langkah pencegahan, jalur pipa sepanjang 107.826 km ditutup oleh Main Pass Oil Gathering Co (MPOG).
Penutupan tersebut dilakukan setelah tumpahan minyak terdeteksi sejauh 19 mil di Sungai Mississippi, New Orleans. Penjaga Pantai, yang memimpin operasi pembersihan, menyatakan bahwa perhitungan awal menunjukkan volume kebocoran mencapai 1,1 juta galon atau setara dengan 26.190 barel. Walaupun terjadi kebocoran minyak, data dari EIA menyampaikan Amerika Serikat tetap mengalami peningkatan persediaan minyak mentah sebesar 8,7 juta barrel, dipicu oleh impor yang lebih tinggi.
Dari data ekonomi Amerika Serikat (AS), Tim Research and Development ICDX menambahkan, Durable Goods Orders turun 5,4% pada bulan ini, melampaui ekspektasi penurunan sebesar 3,4%. Ini menjadi sinyal potensial tentang ketidakpastian dalam pertumbuhan ekonomi dan mencerminkan tantangan dalam mengelola stabilitas harga dan merespon perubahan di pasar keuangan global. Keseluruhan, berbagai peristiwa ini menyoroti kompleksitas dinamika ekonomi dan energi yang terus berkembang di tingkat global.
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 79,43 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 74,21 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau
Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden
Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.Rupiah Melorot, Ekspor Dapat Momentum
Peningkatan ekspor nasional justru perlu terus dilakukan karena daya saing meningkat di tengah pelemahan rupiah.Tag Terpopuler
Terpopuler






