Kamis, 14 Mei 2026

Harga CPO Jatuh, Terseret Pelemahan Minyak Kedelai

Penulis : Indah Handayani
24 Nov 2023 | 05:40 WIB
BAGIKAN
Panen sawit. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Panen sawit. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

JAKARTA, investor.id – Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) jatuh pada Kamis (23/11/2023). Akhiri kenaikan yang terjadi dalam tiga hari berturut-turut. Terseret pelemahan harga minyak kedelai.  

Berdasarkan data BMD pada penutupan Kamis (23/11/2023), kontrak berjangka CPO untuk Desember 2023 turun 23 Ringgit Malaysia menjadi 3.828 Ringgit Malaysia per ton. Untuk kontrak berjangka CPO Januari 2024 melemah 36 Ringgit Malaysia menjadi 3.905 Ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, kontrak berjangka CPO Februari 2024 jatuh 37 Ringgit Malaysia menjadi 3.951 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Maret 2024 berkurang 36 Ringgit Malaysia menjadi 3.976 Ringgit Malaysia per ton.

ADVERTISEMENT

Sedangkan kontrak berjangka CPO April 2024 terkoreksi 35 Ringgit Malaysia menjadi 3.970 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Mei 2024 melemah 35 Ringgit Malaysia menjadi 3.942 Ringgit Malaysia per ton.

Dikutip dari Hellenicshippingnews, minyak sawit berjangka Malaysia turun pada hari Kamis setelah kenaikan tiga sesi berturut-turut. Sebab, mengikuti pelemahan minyak kedelai dan minyak mentah, sementara pelaku pasar menunggu data produksi.

“Ambil keuntungan, pelemahan harga minyak mentah dan harga minyak kedelai yang ditutup lebih rendah di Chicago Board of Trade (CBoT) kemarin malam membebani harga minyak sawit,” kata Sathia Varqa, analis senior di Fastmarkets Palm Oil Analytics.

Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian, DBYcv1, turun 1,18%, sedangkan kontrak minyak sawit DCPcv1 turun 0,59%. CBoT ditutup untuk liburan Thanksgiving.

Harga minyak sawit dipengaruhi oleh harga kedelai yang bersaing untuk mendapatkan pangsa pasar minyak nabati global.

Sementara itu, Asosiasi Minyak Sawit Malaysia memperkirakan produksi pada periode 1-20 November turun 3,89% dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya, kata para pedagang.

Malaysia telah mempertahankan pajak ekspor minyak sawit mentah pada bulan Desember sebesar 8% dan menaikkan harga referensinya, berdasarkan surat edaran di situs web Dewan Minyak Sawit Malaysia pada Kamis (23/11/2023).

Pembeli India membatasi pembelian minyak sawit untuk pengiriman Desember dan Januari karena kenaikan harga. Ditambah lagi, perusahaan penyulingan menghadapi margin negatif setelah melakukan impor besar-besaran dalam beberapa bulan terakhir. Hal itu diungkapkan pejabat industri India.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 32 menit yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 42 menit yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 43 menit yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 54 menit yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden

Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Melorot, Ekspor Dapat Momentum

Peningkatan ekspor nasional justru perlu terus dilakukan karena daya saing meningkat di tengah pelemahan rupiah.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia