Harga CPO Lagi-Lagi Terpangkas Gara-gara China dan India
JAKARTA, investor.id – Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) lagi-lagi terpangkas pada Jumat (22/12/2023). Dengan demikian, harga CPO melemah dua hari beruntun gara-gara pelemahan permintaan dari negara importir, terutama China dan India.
Berdasarkan data BMD pada penutupan Jumat (22/12/2023), kontrak berjangka CPO untuk Januari 2024 naik 3 Ringgit Malaysia menjadi 3.677 Ringgit Malaysia per ton. Untuk kontrak berjangka CPO Februari 2024 melemah 3 Ringgit Malaysia menjadi 3.719 Ringgit Malaysia per ton.
Sementara itu, kontrak berjangka CPO Maret 2024 terkoreksi 3 Ringgit Malaysia menjadi 3.738 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO April 2024 berkurang 4 Ringgit Malaysia menjadi 3.735 Ringgit Malaysia per ton.
Sedangkan kontrak berjangka CPO Mei 2024 jatuh 4 Ringgit Malaysia menjadi 3.713 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Juni 2024 melemah 6 Ringgit Malaysia menjadi 3.681 Ringgit Malaysia per ton.
Research and Development ICDX Girta Yoga mengatakan, harga CPO terpantau bergerak pada tren bearish atau menurun. Sentimen utama yang mempengaruhi pergerakan harga CPO adalah melemahnya permintaan dari negara importir. Hal itu dilihat dari laporan ekspor CPO Malaysia selama 20 hari pertama bulan Desember yang turun sebesar 8%.
“Harga CPO bergerak pada resistance 3.780 Ringgit Malaysia per ton dan support terdekat di 3.680 Ringgit Malaysia per ton,” ungkap Yoga kepada Investor Daily, Jumat (23/12/2023).
Selain itu, lanjut Yoga, tren bearish di pasar minyak kedelai juga turut membebani pergerakan harga CPO. Pelemahan minyak kedelai terjadi karena proyeksi cuaca hujan yang diperkirakan akan melanda Brasil dan Argentina, meredakan kekhawatiran akan kondisi tanaman kedelai cuaca kering yang melanda negara produsen kedelai terbesar pertama dan ketiga dunia itu.
Menurut Yoga, pergerakan harga CPO sepakan ini bearish dengan pelemahan sebesar 0,51%. Sedangkan sepanjang Desember, harga CPO bergerak turun sebesar 3,82%. “Jika dilihat secara year to date (ytd) 8,05%,” papar Yoga.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Tag Terpopuler
Terpopuler






