SUN Dibanjiri Sentimen Positif, Imbal Hasil Bergerak di Kisaran Ini
JAKARTA, investor.id – Surat Utang Negara (SUN) bakal dibanjiri sentimen positif pada pekan ini. Mulai dari ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed, dan penguatan rupiah yang stabil. Hal ini diperkirakan akan meningkatkan minat investor, baik domestik maupun asing. Untuk itu, SUN dengan imbal hasil tenor 10 tahun diproyeksikan bergerak di kisaran ini.
Senior Economist KB Valbury Sekuritas Fikri C Permana mengungkapkan, pemangkasan suku bunga The Fed berpotensi memberikan tekanan lebih lanjut terhadap imbal hasil obligasi AS, membuat pasar Indonesia menjadi lebih menarik bagi investor.
“Dengan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 25 hingga 50 basis poin, dan kemungkinan Bank Indonesia (BI) ikut menyesuaikan suku bunganya pada bulan ini, kita akan melihat minat asing meningkat terhadap surat utang berdenominasi rupiah,” jelasnya kepada Investor Daily, Minggu (8/9/2024).
Fikri menjelaskan, meskipun pasar masih menunggu hasil pertemuan FOMC pada 18 September, ada ekspektasi kuat bahwa BI dapat memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin dalam waktu dekat, seiring dengan potensi pemangkasan suku bunga yang lebih agresif dari The Fed.
"Jika The Fed memangkas suku bunganya sebesar 50 basis poin, BI mungkin akan melakukan pemotongan lagi pada Oktober," tambah Fikri.
Menurutnya, pemangkasan suku bunga dari kedua bank sentral utama tersebut akan menekan imbal hasil surat utang negara. "Imbal hasil tenor 10 tahun diprediksi akan bergerak di kisaran 6,2-6,5%, atau mengalami pemangkasan 10-15 basis poin dari posisi saat ini," jelasnya.
Fikri juga menyebutkan bahwa dalam lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) mendatang, investor kemungkinan besar akan mengincar surat utang dengan tenor menengah hingga panjang, seperti PBS-004 dengan tenor sekitar 7 tahun, kemudian PBS-30 dengan tenor 12 tahun, dan surat utang terpanjang lainnya.
"Imbal hasil surat utang dengan tenor panjang saat ini masih sangat menarik, terutama mengingat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan Bank Indonesia," katanya.
Permintaan Domestik
Dalam hal ini, sektor perbankan, asuransi, dan dana pensiun diperkirakan akan mendominasi permintaan domestik. "Perbankan dan dana pensiun dapat mencakup sekitar 60% dari total permintaan, serupa dengan tren beberapa pekan terakhir," tambah Fikri.
Lebih lanjut Fikri menuturkan, salah satu faktor pendorong minat investor asing terhadap SUN adalah stabilitas rupiah yang terus terjaga. "Rupiah yang stabil, ditambah dengan cadangan devisa Indonesia yang mencapai rekor tertinggi, menjadi daya tarik bagi investor asing," kata Fikri.
Selain itu, inflasi yang terkendali di level rendah 2,12% membuat real yield Indonesia masih cukup besar dibandingkan negara-negara lain. "Real yield kita yang masih tinggi akan terus menarik minat asing, terlebih dengan penguatan rupiah yang memberikan kepastian lebih bagi investor internasional," ujarnya.
Fikri menambahkan, meski ada kompetisi dari negara lain seperti India, Indonesia tetap memiliki daya tarik tersendiri berkat stabilitas ekonomi dan rendahnya inflasi. "Saat ini Indonesia masih menjadi pilihan kompetitif bagi investor global, terutama dengan kondisi fiskal yang lebih stabil dibandingkan negara-negara berkembang lainnya," tutupnya.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






