Rupiah Perkasa Berkat Pasar Respons Positif RI Gabung BRICS
JAKARTA, investor.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup perkasa pada perdagangan Selasa sore (7/1/2025). Hal itu karena pasar merespons positif Indonesia bergabung dalam kelompok BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan).
Mata uang rupiah ditutup menguat 55,5 poin (0,34%) berada di level Rp 16.142,5 per dolar AS. Sedangkan indeks dolar terlihat turun 0,24 poin (0,23%) menjadi 108,01. Nilai tukar rupiah sempat melemah 1 poin di level Rp 16.198 pada Senin (6/1/2025).
Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 55 point sebelumnya sempat menguat 65 point, hingga akhirnya ditutup di level Rp.16.142 dari penutupan sebelumnya di level Rp.16.198. “Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif. Namun, ditutup melemah direntang Rp 16.130 – 16.200,” ungkapnya, Selasa (7/1/2025).
Menurut Ibrahim, pasar merespon positif bergabungnya Indonesia ke dalam kelompok BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) merupakan langkah strategis yang dapat meningkatkan posisi tawar Indonesia di kancah global. Khususnya, di mata OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development).
“Indonesia merupakan kekuatan ekonomi potensial di Asia, potensi itu harus di unlock dengan lebih berani mengambil sikap. Keputusan bergabung BRICS justru akan meningkatkan posisi tawar Indonesia di mata OECD yang selama ini seolah diposisikan tidak setara dengan negara lain,” paparnya.
Baca Juga:
Ekonom Waswas soal Tren RupiahIbrahim menambahkan, terkait agenda dedolarisasi yang menjadi salah satu agenda BRICS, fenomena ini akan terjadi secara alami seiring menurunnya dominasi ekonomi Amerika Serikat (AS). Peran ekonomi AS di dunia, meskipun akan tetap penting, cenderung menurun akibat munculnya kekuatan baru seperti China, India, Rusia, Brasil, Meksiko, atau bahkan Indonesia.
Tren dedolarisasi, lanjutnya, akan lebih banyak terjadi dalam konteks perdagangan antar anggota BRICS, seperti yang telah diterapkan China dan Rusia dengan menggunakan mata uang lokal untuk 90 persen transaksi ekspor-impor mereka. “Namun, untuk terciptanya mata uang alternatif global atau sistem transfer pengganti SWIFT kemungkinan sangat sulit,” tambah Ibrahim.
Lebih lanjut Ibrahim mengatakan, keanggotaan Indonesia di BRICS untuk membuka peluang kerja sama di berbagai bidang, seperti teknologi, ketahanan pangan, dan perubahan iklim. “Ini merupakan langkah strategis untuk memperluas pengaruh dan memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional,” jelasnya.
Sentimen Eksternal
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






