Rupiah Tergerus saat BI Pangkas Suku Bunga
JAKARTA, investor.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup tergerus pada perdagangan Rabu sore (15/1/2025). Di saat Bank Indonesia (BI) di luar dugaan memangkas suku bunga acuan 25 basis poin (Bps).
Mata uang rupiah ditutup melemah 55 poin berada di level Rp 16.325 per dolar AS. Sedangkan indeks dolar terlihat turun 0,22 poin (0,2%) menjadi 109,05. Nilai tukar rupiah sempat menguat 13 poin berada di level Rp 16.270 per dolar AS pada Selasa (14/1/2025).
Baca Juga:
Rupiah Rontok Jelang Keputusan BIDirektur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 55 point sebelumnya sempat melemah 70 poin di level Rp 16.325 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.270. “Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat direntang Rp 16.290 – 16.340,” ungkap Ibrahim, Rabu (15/1/2025).
Ibrahim menjelaskan, ada risiko global yang meningkat terutama dari kemungkinan terjadinyaperang dagang 2.0 dan high for longer rate suku bunga The Fed, akan menyebabkan naiknya risk off sentiment. Melebarkan current account deficit atau defisit transaksi berjalan, dan memicu capital outflow, yang berujung pada pelemahan nilai tukar rupiah.
“Hal ini akan memicu terjadinya imported inflation,” tambah Ibrahim.
Baca Juga:
BI Turunkan Suku Bunga Acuan Jadi 5,75%Oleh karena itu, lanjut dia, dalam pertemuan hari ini, BI memangkas suku bunga acuan 25 bps menjadi 5,75%, suku bunga Deposit Facility menjadi 5,00% dan suku bunga Lending Facility menjadi 6,50%. Keputusan ini konsisten dengan arah kebijakan moneter untuk memastikan tetap terkendalinya inflasi dalam sasaran 2,5 plus 1% pada 2025, serta untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Selain itu, Ibrahim mengatakan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus US$2,24 miliar pada Desember 2024. Surplus pada Desember sejalan dengan proyeksi ekspor pada Desember masih akan tumbuh sebesar 7,6% (year on year/YoY) sementara impor tumbuh lebih tinggi mencapai 10,4%.
Surplus Neraca Perdagangan
Menurut Ibrahim, realisasi tersebut melanjutkan tren surplus neraca dagang Indonesia dalam 56 bulan terakhir. Tren surplus tersebut sudah bertahanan sejak Mei 2020. “Kendati demikian, realisasi tersebut turun US$2,1 miliar dibandingkan bulan lalu,” paparnya.
Sementara itu, Ibrahim menyebut, dari eksternal para pedagang dengan hati-hati menunggu laporan indeks harga konsumen hari Rabu dan juga telah mencermati data ekonomi dengan saksama untuk melihat apakah data tersebut mendukung sikap hati-hati The Fed terhadap suku bunga.
Baca Juga:
Ekonom Waswas soal Tren Rupiah“Pasar sekarang mengantisipasi hanya satu penurunan suku bunga tahun ini, penyesuaian tajam dari ekspektasi sebelumnya yaitu empat kali penurunan sebelum pertemuan Fed pada bulan Desember, menurut Fedwatch,” paparnya.
Sementara itu, Ibrahim mengatakan, Presiden AS terpilih Donald Trump yang akan memulai masa jabatan kedua minggu depan, fokus telah tertuju pada kebijakannya yang menurut para analis akan meningkatkan pertumbuhan dan tekanan harga.
“Ancaman tarif bersama dengan lebih sedikit pemangkasan suku bunga The Fed yang diperkirakan telah mengangkat imbal hasil obligasi AS dan mendukung dolar,” tutupnya.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






