Harga Bitcoin Melesat Jelang Rilis Data CPI AS
Fyqieh menambahkan, pidato Jerome Powell di hadapan Kongres pada 11-12 Februari juga akan menjadi fokus utama. Powell diharapkan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter The Fed, terutama setelah laporan terbaru bank sentral yang menyoroti pertumbuhan ekonomi sekaligus memperingatkan risiko stabilitas keuangan.
“Jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan, pasar keuangan dapat mengalami tekanan, termasuk pasar kripto. Meskipun volatilitas tinggi masih menjadi tantangan, banyak analis tetap optimistis terhadap prospek Bitcoin. Beberapa prediksi menyebutkan BTC bisa turun ke US$ 90 ribu sebelum mencapai rekor harga tertinggi baru,” ucap Fyqieh.
Selain kebijakan The Fed, Fyqieh menyebutkan, pasar kripto juga menghadapi tantangan dari kebijakan tarif AS. Presiden AS, Donald Trump dikabarkan berencana mengenakan tarif 25% pada impor aluminium dan baja, serta tarif timbal balik terhadap negara tertentu. Jika diterapkan, kebijakan ini bisa memicu inflasi lebih tinggi, yang berpotensi menunda pemangkasan suku bunga The Fed dan memberi tekanan pada aset berisiko seperti Bitcoin.
Pada 7 Februari, Bitcoin turun dari US$ 100.216 menjadi US$ 95.688 setelah data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan. Indeks Ekspektasi Inflasi Michigan melonjak dari 3,3% ke 4,3%, menambah tekanan pada The Fed untuk tetap berhati-hati dalam pemangkasan suku bunga. Jika Powell memberikan pernyataan agresif mengenai inflasi dalam kesaksiannya, BTC dan pasar kripto lebih luas bisa mengalami tekanan lebih lanjut.
Di tengah ketidakpastian makroekonomi, perkembangan inisiatif Cadangan Bitcoin Strategis (SBR) di AS menarik perhatian pasar. Baru-baru ini, DPR Negara Bagian Utah meloloskan RUU SBR, menambah daftar negara bagian seperti Texas, Florida, dan Ohio yang mempertimbangkan strategi serupa. Jika semakin banyak negara bagian mendukung SBR, ini bisa meningkatkan permintaan Bitcoin dalam jangka panjang dan menopang harga BTC.
"Pasar kripto saat ini berada dalam fase krusial dengan berbagai faktor yang mempengaruhi pergerakannya, mulai dari inflasi CPI, kebijakan The Fed, tarif perdagangan AS, hingga inisiatif strategis seperti SBR. Sementara volatilitas tetap tinggi, keputusan kebijakan moneter The Fed dan respons investor terhadap data ekonomi akan menjadi faktor penentu arah pasar dalam beberapa minggu ke depan,” tutup Fyqieh.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast
Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di IndonesiaBERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Tag Terpopuler
Terpopuler






