Jumat, 15 Mei 2026

Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari ini, Dipicu Kekhawatiran Perlambatan Ekonomi 

Penulis : Indah Handayani
18 Mar 2025 | 09:30 WIB
BAGIKAN
 ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/rwa.
ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/rwa.

JAKARTA, investor.id - Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada Selasa pagi (18/3/2025). Hal itu dipicu kekhawatiran perlambatan ekonomi AS.

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.06 WIB di pasar spot exchange, Rupiah menguat 13,5 poin (0,08%) ke level Rp 16.392,5 per dolar AS. Sedangkan pada perdagangan Senin (17/3/2025), mata uang rupiah sempat ditutup melemah 56 poin (0,34%) berada di level Rp 16.406 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar terpantau naik 0,12 poin menjadi 103,4. Sedangkan imbal hasil obligasi AS 10 tahun terlihat turun 18 poin di level 4,29%.

ADVERTISEMENT

Dikutip dari Reuters, dolar AS terus terpuruk mendekati level terendah lima bulan terhadap euro dan mata uang utama lainnya pada Selasa (18/3/2025), di tengah kekhawatiran pasar terhadap dampak ekonomi dari meningkatnya ketegangan perdagangan global.

Kebijakan tarif agresif Presiden AS Donald Trump memicu ketakutan akan perlambatan ekonomi yang lebih luas. Hal ini melemahkan dolar, terutama setelah serangkaian survei sentimen menunjukkan hasil yang suram.

Indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama, telah turun sekitar 6% dari puncaknya di 110,17 pada pertengahan Januari. Terakhir, indeks ini berada di level 103,44, masih kesulitan bangkit dari titik terendah lima bulan di 103,21 yang disentuh Selasa lalu.

Data penjualan ritel AS yang dirilis Senin (17/3/2025) juga gagal memberikan dorongan bagi dolar. Meskipun mengalami rebound moderat di Februari, data Januari direvisi turun dengan penurunan 1,2%.

Sementara itu, euro bertahan di sekitar US$ 1,0919 menjelang pemungutan suara terkait paket stimulus besar Jerman. Mata uang ini tidak jauh dari level tertinggi sejak 11 Oktober di US$ 1,0947 yang dicapai pekan lalu. Pada Senin, Mahkamah Konstitusi Jerman menolak gugatan oposisi terhadap rencana stimulus yang diajukan pemerintah koalisi baru. Ini membuka jalan bagi parlemen untuk membahas paket stimulus pada Selasa.

Stimulus tersebut mencakup dana sebesar 500 miliar euro (US$ 544 miliar) untuk infrastruktur serta perubahan aturan utang guna memperkuat sektor pertahanan dan mendorong pertumbuhan ekonomi terbesar di Eropa itu.

Kebijakan Moneter Bank Sentral

Di sisi kebijakan moneter, The Fed, Bank of Japan (BOJ), dan Bank of England diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan ini. Para investor akan mencermati panduan ke depan dari masing-masing bank sentral.

The Fed juga dijadwalkan merilis proyeksi ekonomi terbaru yang akan memberikan gambaran lebih jelas tentang bagaimana bank sentral AS melihat dampak kebijakan Trump terhadap ekonomi. Para analis Citi FX memprediksi bahwa jika pertumbuhan dan lapangan kerja melambat sementara inflasi meningkat, The Fed kemungkinan akan lebih berhati-hati dan cenderung mendukung kebijakan yang menopang pertumbuhan.

Saat ini, pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 60 basis poin atau lebih dari dua kali pemangkasan sepanjang tahun ini.

Di Jepang, BOJ diperkirakan akan menaikkan suku bunga akhir tahun ini, tetapi yen melemah setelah mencapai puncaknya di 146,545 per dolar pada Selasa lalu, level tertinggi sejak 4 Oktober. BOJ memulai pertemuan dua hari mereka pada Selasa dan akan membahas dampak perang dagang AS yang semakin meningkat terhadap ekonomi Jepang. Hasil diskusi ini akan menjadi kunci dalam menentukan waktu kenaikan suku bunga berikutnya.

Dolar AS naik tipis 0,07% ke 149,3 yen setelah sempat menyentuh 149,46, level tertinggi dalam hampir dua pekan.

Poundsterling diperdagangkan di $1,2985, sedikit di bawah level tertinggi Senin di US$ 1,2999, yang merupakan titik terkuat sejak 7 November.

Sementara itu, bank sentral Australia pada Selasa menyatakan sikap lebih berhati-hati dibandingkan pasar terkait prospek pelonggaran kebijakan lebih lanjut. Sebelumnya, bank sentral memangkas suku bunga untuk pertama kalinya dalam lebih dari empat tahun bulan lalu.

Dolar Australia, yang sering dianggap sebagai proksi mata uang China, stabil di US$ 0,6383, didukung oleh penjualan ritel China yang kuat dan optimisme terhadap rencana aksi khusus pemerintah China untuk meningkatkan konsumsi domestik. Dolar Selandia Baru juga naik ke level tertinggi sejak 10 Desember di US$ 0,58265 pada Selasa.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia