Kamis, 14 Mei 2026

Rupiah vs Dolar AS Hari ini, Tertekan Sentimen Dalam Negeri

Penulis : Indah Handayani
18 Mar 2025 | 15:40 WIB
BAGIKAN
Nilai tukar (kurs) rupiah hari ini terhadap dolar AS . (Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
Nilai tukar (kurs) rupiah hari ini terhadap dolar AS . (Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

JAKARTA, investor.id – Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup terkoreksi pada Selasa sore (18/3/2025). Hal itu karena tertekan sentimen dalam negeri.

Mata uang rupiah ditutup melemah 22 poin (0,13%) berada di level Rp 16.428 per dolar AS. Sedangkan indeks dolar terlihat turun 0,04 poin menjadi 103,3. Nilai tukar rupiah sempat ditutup ditutup melemah 56 poin (0,34%) berada di level Rp 16.406 per dolar AS pada Senin (17/3/2025).

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, sentimen dalam negeri yang membebani rupiah hari ini adalah ekonom menilai laporan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Kinerja dan Fakta atau APBN KiTa Februari 2025 menunjukkan indikasi pelemahan fiskal yang perlu segera diantisipasi. Defisit fiskal sebesar Rp31,2 triliun atau 0,13% terhadap PDB dalam dua bulan pertama tahun ini, ditambah dengan penurunan penerimaan pajak sebesar 30,19% (yoy), menjadi tanda bahaya bagi keberlanjutan kebijakan ekonomi pemerintah.

ADVERTISEMENT

“Jika tidak ada langkah korektif yang tegas, bukan tidak mungkin defisit bisa melebar hingga melebihi batas aman di akhir tahun,” ungkapnya, Selasa (18/3/2025).

Dilansir dari data Kementerian Keuangan dalam laporan APBN KiTa edisi Februari 2025, realisasi pendapatan negara hingga akhir Februari 2025 mencapai Rp 316,9 triliun atau 10,5% dari target APBN tahun ini. Penerimaan perpajakan mencatatkan angka Rp240,4 triliun atau 9,7% dari target tahun ini, terdiri dari penerimaan pajak Rp187,8 triliun atau 8,6% dari target serta penerimaan kepabeanan dan cukai Rp52,6 triliun atau 17,5% dari target.

Sementara itu, Ibrahim mengatakan, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) telah terkumpul sebanyak Rp76,4 triliun atau 14,9% dari target APBN. Anjloknya penerimaan pajak bukan hanya disebabkan oleh faktor ekonomi yang lesu, melainkan juga permasalahan administrasi dan implementasi sistem Coretax yang gagal beroperasi secara optimal.

“Penurunan pajak yang drastis ini lebih banyak berkaitan dengan kendala dalam implementasi Coretax yang menghambat pemungutan pajak dari sektor-sektor utama,” tambah Ibrahim.

Selain pajak, Ibrahim mengatakan, daya beli masyarakat disebut menjadi faktor utama yang patut dicermati. Inflasi pangan dan energi yang masih bertahan di atas 4% berpotensi menekan konsumsi rumah tangga yang merupakan kontributor terbesar terhadap PDB. Jika daya beli masyarakat terus melemah, maka sektor ritel, UMKM, hingga industri manufaktur akan terdampak signifikan.

“Ini bisa menjadi awal dari perlambatan ekonomi yang lebih dalam,” ucapnya.

Sentimen Eksternal

Sedangkan sentimen dari eksternal, Ibrahim mengungkapkan, Israel melancarkan serangan terhadap target Hamas di Gaza, pembicaraan gencatan senjata gagal. Sejumlah laporan media mengatakan Israel telah melancarkan serangan terhadap target Hamas di seluruh Gaza setelah pembicaraan tentang gencatan senjata gagal.

Serangan itu dilaporkan menewaskan lebih dari 200 orang, termasuk pejabat senior Hamas, dan memicu kemarahan dari kelompok itu, yang menuduh Israel melanggar gencatan senjata Januari. Israel dan Hamas telah menyetujui gencatan senjata sementara pada pertengahan Januari.

Namun, lanjut Ibrahim, pembicaraan mengenai perjanjian damai yang lebih konkret telah memburuk di tengah ketidaksepakatan atas ketentuan gencatan senjata, sementara delegasi AS juga tidak dapat menjadi penengah perdamaian. Israel mengklaim serangan itu sebagai balasan atas penolakan berulang Hamas untuk membebaskan sandera Israel.

“Serangan hari Selasa menandai pembaruan ketegangan di Timur Tengah,” tegasnya.

Kemudian, Ibrahim menyebut, di tengah ketidakpastian yang terus-menerus atas rencana tarif Trump, terutama karena target utamanya Eropa, China, Kanada, dan Meksiko, mengumumkan serangkaian tindakan pembalasan. Trump mengulangi ancamannya bahwa tarif timbal balik dan sektoral akan diberlakukan paling cepat pada tanggal 2 April. “Kekhawatiran atas gangguan ekonomi dari tarif tersebut memicu ketakutan akan resesi AS,” jelas Ibrahim.

Lebih lanjut Ibrahim mengatakan, Pertemuan The Fed kini menjadi fokus untuk isyarat ekonomi lainnya, dengan bank sentral secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada akhir pertemuan dua hari pada Rabu (19/3/2025). Namun bank sentral diperkirakan akan mengurangi pandangan agresifnya dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi yang meningkat. Selain The Fed, pertemuan Bank of Japan dan Bank of England juga akan berlangsung minggu ini.

“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif. Namun, rupiah ditutup menguat direntang Rp 16.390-16.430,” tutupnya. 
 

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 54 menit yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 1 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 1 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 2 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 2 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 3 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia