Kian Melemah, Rupiah Diramal Dekati Level Rp 16.500 Pekan Depan
JAKARTA, investor.id – Nilai tukar Rupiah (IDR) kembali mengalami pelemahan terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Kamis sore (4/9), menurun hingga 16 point.
Sebelumnya, Rupiah sempat melemah 35 point di level Rp 16.431 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.415. Pengamat pasar mata uang, Ibrahim Assuaibi memperkirakan pelemahan Rupiah akan berlanjut hingga Senin pekan depan (8/9), dan mendekati level Rp 16.500.
"Untuk perdagangan Senin besok, mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 16.420 - Rp 16.470," ungkap Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (4/9/2025).
Dari sisi domestik, Rupiah melemah setelah penilaian baru lembaga pemeringkat Fitch Ratings Inc. menunjukkan bahwa, jika kerusuhan di beberapa titik terus terjadi ada risiko melemahkan peringkat kredit Indonesia, karena pertumbuhan ekonomi bisa melemah dan sektor keuangan terbebani.
Fitch menilai, aksi unjuk rasa yang disertai kekerasan berisiko menimbulkan dampak negatif terhadap profil kredit Indonesia. Hal ini terutama jika kondisi tersebut sampai membuat prospek pertumbuhan jangka menengah melemah.
Analisis Fitch itu juga senada dengan komentar S&P Global Ratings, yang menjelaskan bahwa tekanan ekonomi bisa mempersulit pemerintah untuk menyeimbangkan prioritas belanja, sekaligus menjaga defisit fiskal di bawah batas 3% sesuai ketentuan undang-undang.
Dari segi faktor eksternal, penurunan Rupiah terjadi di tengah optimisme pasar bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga akhir bulan ini setelah Biro Statistik Tenaga Kerja menunjukkan bahwa Lowongan Kerja pada bulan Juli menurun menjadi 7,18 juta dari 7,35 juta pada bulan Juni (direvisi dari 7,43 juta).
"Angka ini lebih buruk dari ekspektasi pasar sebesar 7,4 juta dan memicu kembali kekhawatiran akan memburuknya kondisi pasar tenaga kerja AS. di tengah meningkatnya keyakinan bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga akhir bulan ini," paparnya.
CME Fedwatch mengungkapkan, pasar kini memperkirakan ada peluang hampir 97% bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin selama pertemuan 17-18 September mendatang.
Rupiah juga lanjut melemah di tengah ketidakpastian atas tarif perdagangan AS, setelah pengadilan banding memutuskan bahwa sebagian besar pungutan Presiden Donald Trump ilegal. Sementara itu, Trump mengisyaratkan akan mengajukan banding atas putusan tersebut ke Mahkamah Agung, dan bahwa putusan apa pun yang menentang tarifnya akan berdampak buruk bagi kesepakatan perdagangan baru-baru ini yang ditandatangani oleh pemerintahannya.
"Kekhawatiran atas independensi The Fed juga masih ada di tengah pertikaian hukum terkait upaya Trump untuk memecat Gubernur The Fed Lisa Cook. Namun, kekhawatiran ini sedikit mereda setelah Stephen Miran, calon Gubernur The Fed pilihan Trump, berjanji untuk mempertahankan independensi bank sentral dari politik," tambah Ibrahim.
Editor: Natasha Khairunisa
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Tag Terpopuler
Terpopuler






