Proyeksi Terbaru Rupiah Setelah Lolos dari Tekanan
JAKARTA, investor.id - Rupiah mulai mengalami penguatan pada perdagangan hari Rabu (10/9), setelah mengalami pelemahan dalam beberapa hari terakhir.
Rupiah ditutup menguat 12 point terhadap Dolar AS (USD), setelah sebelumnya sempat menguat 40 point di level Rp 16.469 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.481.
"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp 16.420 - Rp 16.470," ungkap pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (10/9/2025).
Ibrahim memaparkan, penguatan Rupiah terjadi menyusul data ketenagakerjaan AS yang menunjukkan bahwa perekonomian negara itu telah menciptakan 911.000 lebih sedikit lapangan kerja selama setahun terakhir dibandingkan perkiraan sebelumnya. Angka tersebut tanda melemahnya pertumbuhan penggajian dan melemahnya pasar tenaga kerja.
"Hal ini semakin memperkuat ekspektasi penurunan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin, dengan kemungkinan kecil penurunan sebesar 50 basis poin," jelas Ibrahim.
Di sisi lain, data inflasi utama AS pada bulan Agustus akan menguji spekulasi pemangkasan suku bunga minggu ini. Seperti diketahui, data inflasi PPI AS akan dirilis pada hari Rabu (10/9) waktu AS, sementara data inflasi IHK akan dirilis pada hari Kamis besok (11/9).
Data inflasi bulan Agustus akan diawasi secara ketat untuk melihat tanda-tanda peningkatan tekanan harga, mengingat sebagian besar tarif perdagangan Trump mulai berlaku bulan lalu.
Rupiah juga menguat meski ketegangan di Timur Tengah meningkat ketika Israel mengumumkan menyerang pimpinan Hamas di Doha. Aksi tersebut memicu kecaman dari para pejabat Qatar dan AS atas kekhawatiran bahwa langkah tersebut dapat menggagalkan perundingan damai yang sedang berlangsung.
Serangan Israel kini membuat perundingan damai Israel-Palestina di masa mendatang menjadi tidak pasti, membuka pintu bagi aksi militer lanjutan oleh Yerusalem terhadap Hamas.
"Sebagian besar tindakan ini diarahkan ke Jalur Gaza, membuat pasar gelisah karena ketegangan geopolitik di Timur Tengah," Ibrahim menyoroti.
Adapun di Eropa, Presiden AS Donald Trump mendesak Uni Eropa untuk mengenakan tarif tinggi terhadap India dan China atas pembelian energi Rusia.
Trump sendiri telah mengenakan tarif 50% terhadap India, dan menyerukan tarif 100% terhadap New Delhi dan Beijing.
Editor: Natasha Khairunisa
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Tag Terpopuler
Terpopuler






