Ekonomi RI Tumbuh 5,12%, Rupiah Lanjut Perkasa Senin Depan
JAKARTA, investor.id - Nilai tukar Rupiah (IDR) melanjutkan penguatan terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Jumat, 12 September 2025.
Rupiah ditutup menguat 87 point terhadap Dolar AS, setelah sebelumnya sempat menguat 100 point di level Rp 16.375 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.461.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi memproyeksi penguatan Rupiah akan berlanjut hingga awal minggu depan, memasuki kisaran Rp 16.300.
"Sedangkan untuk perdagangan Senin depan, mata uang Rupiah fluktuatif namun di tutup menguat di rentang Rp 16.320 - Rp 16.380," ungkap Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (12/9/2025).
Penguatan Rupiah hari ini seiring rilis BPS yang mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal II/2025 tumbuh sebesar 5,12% yoy.
Pada kuartal sebelumnya, kuartal I/2025, Indonesia mencatat pertumbuhan lebih kecil yakni 4,87% yoy.
Selain itu, langkah BI menerbitkan instrumen utang seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), turut mendorong perbankan menaruh dananya pada instrumen tersebut, bukan justru menyalurkannya ke kredit untuk sektor riil sehingga ekonomi melambat yang berdampak terhadap daya beli menurun.
Rupiah juga menguat di hari yang sama rilis data harga konsumen Amerika Serikat naik 0,4% pada bulan Agustus 2025, mendorong inflasi tahunan menjadi 2,9%, tertinggi dalam tujuh bulan.
Sementara itu, pasar tenaga kerja AS menunjukkan tanda-tanda pelemahan lebih lanjut, dengan klaim pengangguran mingguan naik ke level tertinggi dalam hampir empat tahun, dan pertumbuhan penggajian melambat.
"Pasar semakin yakin akan pelonggaran kebijakan yang akan segera terjadi setelah data harga produsen AS yang lebih lemah dari perkiraan dan revisi besar-besaran terhadap angka ketenagakerjaan resmi memperkuat tanda-tanda pasar tenaga kerja yang mendingin," papar Ibrahim.
"Pasar kini melihat peluang pemangkasan suku bunga hampir sepenuhnya pada pertemuan kebijakan 16-17 September, dengan beberapa investor bertaruh pada jalur pelonggaran yang lebih agresif," bebernya.
Rupiah juga perkasa meski ketegangan perdagangan global meningkat, ketika AS mendorong tarif yang lebih ketat terhadap pembeli minyak dari Rusia, khususnya India dan China.
AS juga menekan negara-negara G7 untuk mengenakan tarif yang jauh lebih tinggi terhadap China dan India atas pembelian minyak Rusia, Financial Times melaporkan pada hari Kamis.
Editor: Natasha Khairunisa
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Tag Terpopuler
Terpopuler






