Rupiah Tergerus Lagi, Ada 2 Sentimen Penekan
JAKARTA, investor.id - Mata uang rupiah (IDR) mengalami pelemahan terhadap Dolar AS (USD) pada Senin, 15 September 2025.
Rupiah ditutup melemah 41 point terhadap dolar AS pada perdagangan Senin sore (15/9), setelah sebelumnya sempat melemah 55 point di level Rp 16.416 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.375.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi kembali mengungkapkan beberapa sentimen yang mendorong pelemahan rupiah hari ini.
Dari sisi domestik, Ibrahim menyebut, rupiah melemah setelah berita terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan melambat pada kuartal III Tahun 2025. Proyeksi perlambatan ekonomi muncul karena faktor belanja pemerintah yang masih rendah. Selain itu, kinerja perdagangan khususnya net ekspor juga diperkirakan melandai.
Ditambah lagi, kinerja ekspor memuncak hanya sampai Agustus 2025 karena pengusaha melakukan front loading sebelum penerapan tarif impor oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Namun, Ibrahim melihat, geliat perekonomian akan berbalik arah terjadi pada kuartal IV/2025, dengan mencatat pertumbuhan yang sejalan dengan penyerapan insentif maupun stimulus yang digelontorkan pemerintah. Pemerintah telah menargetkan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 mencapai 5,2% yoy. Adapun paket stimulus yang segera dikeluarkan menjelang akhir tahun, melalui beberapa paket insentif yang akan digelontorkan hingga akhir tahun.
Sementara dari sisi eksternal, pelemahan rupiah awal pekan terjadi di tengah penanti pasar pada keputusan Federal Reserve (The Fed), terkait kebijakan moneter terbarunya.
Data ekonomi terbaru AS yang memberi ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk melonggarkan kebijakan moneter. Seperti diketahui, Indeks Harga Konsumen (IHK) AS di bulan Agustus mengonfirmasi bahwa inflasi utama negara itu masih sedikit tinggi, dan Nonfarm Payrolls (NFP) hampir terhenti di bulan Agustus dan pertumbuhan lapangan kerja direvisi turun tajam.
Klaim pengangguran awal di AS juga telah naik ke level tertinggi dalam beberapa tahun. Pada saat yang sama, tekanan harga di tingkat produsen telah turun.
"Secara keseluruhan, indikator-indikator ini telah menutupi kekhawatiran inflasi yang The Fed takutkan selama ini dan menggarisbawahi bahwa risiko penurunan lapangan kerja semakin meningkat, sehingga pemangkasan suku bunga The Fed 25 basis point minggu ini hampir pasti terjadi," papar Ibrahim.
Sentimen Eksternal Lainnya
Pelemahan rupiah di awal pekan juga terjadi seiring tensi geopolitik yang kembali memanas, salah satunya setelah Ukraina meningkatkan serangannya terhadap infrastruktur minyak Rusia, termasuk terminal ekspor terbesarnya, Primorsk, dan kilang utama Kirishinefteorgsintez.
Serangan tersebut berpotensi menghentikan produksi minyak Rusia dalam jumlah besar, dan dapat memicu potensi gangguan pasokan, terutama untuk pasar utama Moskow, yaitu India dan China.
Ibrahim mengungkapkan, fokus pasar juga tertuju pada upaya AS untuk meredakan perang Rusia-Ukraina, meskipun Moskow pada hari Jumat lalu mengisyaratkan bahwa perundingan gencatan senjata dengan Ukraina telah terhenti.
Selain itu, pasar juga mengamati perkembangan dari langkah AS mendesak negara-negara G-7 untuk menerapkan tarif perdagangan yang lebih tinggi terhadap China dan India.
"Pembatasan yang lebih ketat dari negara-negara Barat terhadap pembelian minyak Rusia akan semakin membatasi pasokan global, dan tampaknya kemungkinan besar terjadi mengingat perang antara Moskow dan Kyiv belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir," Ibrahim menyoroti.
Editor: Natasha Khairunisa
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Tag Terpopuler
Terpopuler






