Sabtu, 4 April 2026

Harga Minyak Naik Tajam, Pasar Harap-harap Cemas Soal AS–Iran

Penulis : Indah Handayani
17 Feb 2026 | 05:40 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi harga minyak
Sumber: AP
Ilustrasi harga minyak Sumber: AP

NEW YORK, investor.id – Harga minyak dunia ditutup naik tajam pada perdagangan Senin (16/2/2026), seiring pelaku pasar mencermati rencana perundingan nuklir antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berpotensi meredakan ketegangan geopolitik, di tengah ekspektasi peningkatan pasokan dari kelompok produsen minyak global.

Harga minyak Brent ditutup naik 87 sen (1,28%) ke level US$ 68,62 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 84 sen (1,34%) menjadi US$ 63,73 per barel. Kontrak WTI tidak memiliki harga penutupan resmi karena pasar AS tutup memperingati Presidents’ Day.

Analis PVM Tamas Varga mengatakan, kekhawatiran gangguan pasokan akibat ketegangan antara AS dan Iran membantu menjaga stabilitas harga minyak.

Advertisement

Di sisi lain, aktivitas perdagangan relatif terbatas karena sejumlah pasar Asia, termasuk China, Korea Selatan, dan Taiwan, memasuki periode libur Tahun Baru Imlek.

Pada pekan sebelumnya, kedua acuan minyak mencatat pelemahan, setelah Donald Trump menyatakan Washington berpeluang mencapai kesepakatan dengan Teheran dalam waktu dekat. Pernyataan tersebut memicu harapan meredanya konflik yang selama ini menjadi faktor penopang harga minyak.

Kedua negara dijadwalkan menggelar putaran kedua perundingan di Jenewa pada Selasa (17/2/2026), membahas program nuklir Iran. Menjelang pertemuan tersebut, Menteri Luar Negeri Iran juga telah bertemu dengan pimpinan International Atomic Energy Agency, lembaga pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Seorang diplomat Iran menyatakan Teheran tengah mengupayakan kesepakatan nuklir dengan AS yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi kedua negara, termasuk investasi di sektor energi dan pertambangan, serta pembelian pesawat.

Dibayangi Risiko Eskalasi

Namun, risiko eskalasi masih membayangi. Pejabat AS disebut tengah mempersiapkan opsi militer jika negosiasi gagal, sementara Garda Revolusi Iran memperingatkan akan melakukan pembalasan terhadap pangkalan militer AS jika terjadi serangan.

Analis SEB menyebut ketegangan geopolitik dapat mendorong harga minyak Brent naik hingga US$ 80 per barel. Sebaliknya, jika ketegangan mereda, harga berpotensi turun kembali ke kisaran US$ 60 per barel.

Di sisi lain, potensi kenaikan produksi dari OPEC+ menjadi faktor penahan kenaikan harga. Kelompok produsen minyak tersebut diperkirakan akan melanjutkan peningkatan produksi mulai April, setelah sebelumnya menahan output selama tiga bulan.

Selain faktor geopolitik, permintaan kuat dari China juga menopang harga minyak. Impor minyak mentah China, khususnya dari Rusia, diperkirakan meningkat untuk bulan ketiga berturut-turut dan berpotensi mencetak rekor baru, setelah India mengurangi pembelian akibat tekanan dari AS.

Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan, permintaan yang solid dari China dan gangguan ekspor minyak di sejumlah wilayah turut memberikan dukungan tambahan bagi harga minyak global.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 4 menit yang lalu

Operator Transportasi Antisipasi Libur Panjang Paskah

Sejumlah operator transportasi mengantisipasi lonjakan mobilitas masyarakat pada libur panjang Hari Raya Paskah 2026.
International 7 menit yang lalu

12 RT dan 4 Ruas Jalan di Jakbar Terendam Banjir

Banjir rendam 12 RT di Jakarta Barat akibat luapan Kali Angke dan Pesanggrahan. BPBD DKI siagakan personel untuk penyedotan genangan air.
Market 17 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Sabtu 4 April 2026: Kokoh

​​​​​​​Harga emas Antam (ANTM) terpantau kokoh pada hari ini, sabtu (4/4/2026). Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 20 menit yang lalu

Masuk Saham Terkonsentrasi Tinggi, Laba Samator (AGII) Merosot

Laba bersih Samator Indo Gas (AGII) merosot 44,37% pada 2025, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
International 28 menit yang lalu

Kadin: Perang Lumpuhkan Ekonomi Timur Tengah, Biaya Kirim Melonjak 3 Kali

Kadin ungkap dampak perang Iran-AS: Biaya logistik naik 3 kali lipat & pengiriman barang molor hingga 2 bulan. Cek dampaknya bagi Indonesia.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Komitmen Investasi Rp574 Triliun dari Jepang dan Korsel

Dalam situasi geopolitik yang tidak menentu, Indonesia masih menjadi daya tarik bagi para investor dari Jepang maupun Korsel.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia