Harga Minyak Mendidih, Pasar Ragukan Gencatan Senjata Perang Iran
NEW YORK, investor.id – Harga minyak dunia kembali memanas pada penutupan perdagangan Jumat (27/3/2026), mencatat kenaikan mingguan. Penguatan ini mencerminkan keraguan pelaku pasar terhadap peluang tercapainya gencatan senjata dalam konflik Iran yang telah berlangsung selama satu bulan.
Dikutip dari Reuters, harga minyak Brent melonjak US$ 4,56 (4,2%) menjadi US$ 112,57 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melesat US$ 5,16 (5,5%) ke level US$ 99,64 per barel.
Sejak 27 Februari, sehari sebelum Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan ke Iran, harga Brent telah melonjak sekitar 53%, sedangkan WTI naik 45%. Dalam sepekan terakhir, Brent menguat sekitar 0,3% dan WTI naik lebih dari 1%.
Pelaku pasar masih berhati-hati menyikapi pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait peluang negosiasi dengan Iran. Seorang pejabat Iran menyebut proposal yang disampaikan AS melalui Pakistan sebagai ‘sepihak dan tidak adil’.
Analis StoneX Alex Hodes mengatakan, investor kini lebih fokus pada durasi konflik dibandingkan perkembangan wacana di media. Menurut dia, potensi penutupan berkepanjangan Selat Hormuz atau kerusakan infrastruktur energi tetap menjadi faktor yang menjaga premi risiko harga minyak tetap tinggi.
Konflik ini telah memangkas sekitar 11 juta barel per hari pasokan minyak global. International Energy Agency bahkan menyebut krisis ini lebih parah dibandingkan dua krisis minyak pada era 1970-an.
Analis UBS Giovanni Staunovo menambahkan, setiap hari pembatasan arus di Selat Hormuz berlangsung, lebih dari 10 juta barel pasokan minyak hilang dari pasar, sehingga memperketat kondisi pasar global.
Timur Tengah Memanas
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





