Harga Minyak Naik Tipis, Dipicu Gangguan Pasokan
Di sisi lain, ketidakpastian meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan memecat Ketua The Fed Jerome Powell dari jabatannya di Dewan Gubernur jika tidak mundur setelah masa jabatannya sebagai Ketua The Fed berakhir pada 15 Mei.
Langkah tersebut memicu kekhawatiran pasar karena dinilai dapat mengganggu independensi bank sentral dalam mengendalikan inflasi. Trump sendiri mendorong pemangkasan suku bunga guna menekan biaya konsumen dan mendorong pertumbuhan ekonomi serta permintaan energi.
Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee memperingatkan, kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan ekspektasi inflasi konsumen. Ia menyebut bank sentral AS menghadapi risiko ganda dari konflik Iran dan kebijakan tarif Trump.
Dana Moneter Internasional (IMF) juga memperkirakan sedikitnya selusin negara akan mengajukan program pinjaman baru guna mengatasi lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok akibat konflik Timur Tengah.
Sebagai respons, Jepang menyiapkan skema pembiayaan senilai sekitar US$ 10 miliar untuk membantu negara-negara Asia mengamankan pasokan energi dan memperkuat cadangan mereka.
Sementara itu, Rusia menyatakan siap meningkatkan pasokan energi ke China menjelang rencana kunjungan Presiden Vladimir Putin.
Dari sisi fundamental, harga minyak juga mendapat dukungan dari data persediaan minyak AS. Laporan Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan stok minyak mentah turun 0,9 juta barel pada pekan yang berakhir 10 April.
Angka ini berbanding terbalik dengan perkiraan analis yang memprediksi kenaikan sebesar 0,15 juta barel, serta laporan sebelumnya dari American Petroleum Institute yang menunjukkan lonjakan stok sebesar 6,1 juta barel.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





