Kamis, 14 Mei 2026

Harga Emas Rontok, Minyak Meledak

Penulis : Indah Handayani
13 Mei 2026 | 04:14 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi emas. (Treasury)
Ilustrasi emas. (Treasury)

NEW YORK, investor.idHarga emas dunia kembali melemah pada perdagangan Selasa (12/5/2026), tertekan lonjakan harga minyak mentah yang memicu kekhawatiran inflasi global semakin tinggi dan membuat suku bunga bertahan di level tinggi lebih lama.

Harga emas ditutup turun 0,41% menjadi US$ 4.715,33 per ons troi. Sementara itu, kontrak emas berjangka Amerika Serikat (AS) ditutup melemah 0,13% ke level US$ 4.722,7 per ons troi.

Dikutip dari Reuters, tekanan terhadap emas muncul setelah optimisme tercapainya kesepakatan damai Iran mulai memudar. Presiden AS Donald Trump menyebut gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi ‘life support’ setelah Teheran menolak proposal perdamaian dari Washington.

ADVERTISEMENT

Situasi tersebut langsung mendorong harga minyak dunia melonjak lebih dari 3%, memicu kekhawatiran pasar terhadap risiko stagflasi global.

“Kenaikan harga minyak meningkatkan risiko bank sentral AS dan negara lain harus menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi yang berpotensi memicu stagflasi. Itu sebabnya emas tertekan,” ujar Kepala Strategi Komoditas TD Securities Bart Melek.

Di sisi lain, data terbaru menunjukkan inflasi konsumen AS naik untuk bulan kedua berturut-turut pada April. Kenaikan itu mencatat lonjakan tahunan terbesar dalam hampir tiga tahun terakhir dan memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Kondisi tersebut menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil sehingga kurang menarik saat suku bunga tinggi.

Proyeksi Tetap Bullish

Meski demikian, UBS Investment Bank masih mempertahankan pandangan bullish terhadap emas. Strategi Logam Mulia UBS Joni Teves menilai, fundamental penggerak harga emas masih cukup kuat.

“Kami masih melihat harga emas berpotensi pulih dari level saat ini dan kembali mencetak rekor tertinggi baru tahun ini,” ujar dia.

Pelaku pasar kini menantikan rilis data Producer Price Index (PPI) AS pada Rabu (13/5/2026) yang dapat memberikan petunjuk arah kebijakan suku bunga The Fed selanjutnya.

Selain itu, perhatian investor juga tertuju pada pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing yang dijadwalkan berlangsung Kamis hingga Jumat pekan ini, 14-15 Mei 2026.

Di pasar logam lainnya, harga perak spot turun 0,54% menjadi US$ 86,58 per ons setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dua bulan.

Analis SP Angel menyebut prospek perak masih positif seiring meningkatnya permintaan fisik dan potensi defisit pasokan global. Kenaikan harga minyak juga dinilai dapat meningkatkan penjualan kendaraan listrik yang berpotensi mendongkrak kebutuhan perak untuk panel surya dan teknologi energi terbarukan.

Sementara itu, harga platinum turun 0,19% menjadi US$ 2.131,19 per ons dan palladium melemah 0,86% ke level US$ 1.495,77 per ons.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 27 menit yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 37 menit yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 38 menit yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 49 menit yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden

Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Melorot, Ekspor Dapat Momentum

Peningkatan ekspor nasional justru perlu terus dilakukan karena daya saing meningkat di tengah pelemahan rupiah.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia