Kamis, 14 Mei 2026

Harga Minyak Ambles, Pasar Tunggu Pertemuan Trump dan Xi Jinping

Penulis : Indah Handayani
14 Mei 2026 | 05:01 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi kilang minyak
Ilustrasi kilang minyak

HOUSTON, investor.id Harga minyak dunia ditutup ambles pada perdagangan Rabu (13/5/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) serta penantian hasil pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing.

Dikutiup dari Reuters, harga minyak Brent turun US$ 2,14 (2%) menjadi US$ 105,63 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah US$ 1,16 (1,14%) ke level US$ 101,02 per barel.

Sentimen pasar turut tertekan oleh pernyataan Presiden The Fed Boston Susan Collins yang membuka kemungkinan kenaikan suku bunga jika tekanan inflasi tidak mereda. Kondisi ini menambah kekhawatiran bahwa perang Iran telah mulai berdampak pada ekonomi AS.

ADVERTISEMENT

Data inflasi terbaru juga memperkuat tekanan tersebut. Harga produsen AS mencatat lonjakan terbesar dalam empat tahun terakhir, didorong kenaikan biaya barang dan jasa. Sementara inflasi konsumen pada April kembali naik tajam dan mencatat laju tahunan tertinggi dalam hampir tiga tahun.

Kenaikan suku bunga biasanya meningkatkan biaya pinjaman bagi bisnis dan konsumen, yang berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi sekaligus mengurangi permintaan minyak.

Di sisi geopolitik, Trump tiba di Beijing menjelang pertemuan dengan Xi Jinping, di tengah meningkatnya ketegangan global dan melemahnya prospek perdamaian jangka panjang di Timur Tengah. Iran disebut semakin memperketat pengaruhnya di kawasan strategis Selat Hormuz, jalur utama perdagangan minyak dunia.

China, sebagai pembeli utama minyak Iran, tetap berada dalam tekanan sanksi dari AS. Pertemuan Trump–Xi dijadwalkan berlangsung dalam dua hari ke depan.

Ancaman Krisis Pasokan

Analis Rystad Energy Janiv Shah menilai, pasar minyak masih akan menghadapi kondisi ketat hingga akhir tahun. “Ada kemungkinan pasar minyak tetap dalam kondisi struktural ketat sepanjang tahun ini,” ujarnya.

Di sisi lain, Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global pada 2026, sementara Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa pasokan global berpotensi tidak mampu memenuhi permintaan tahun ini akibat gangguan produksi di Timur Tengah.

Data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan stok minyak mentah AS turun 4,3 juta barel, lebih besar dari perkiraan analis sebesar 2,1 juta barel. Stok bensin juga turun 4,1 juta barel, sementara stok distilat justru naik tipis 0,2 juta barel.

Sebelumnya, harga minyak sempat menguat lebih dari 3% pada sesi perdagangan sebelumnya seiring memudarnya harapan gencatan senjata Iran-AS dan meningkatnya kekhawatiran gangguan pasokan di Selat Hormuz.

Ketegangan di kawasan kembali meningkat setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyebut Kuwait telah menahan empat warga Iran terkait insiden di Teluk, sementara Iran menuntut pembebasan mereka dan menyatakan siap merespons.

Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance menyebut adanya kemajuan dalam negosiasi dengan Iran, meski Trump menilai proposal terbaru dari Teheran belum dapat diterima.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 32 menit yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 42 menit yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 43 menit yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 54 menit yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden

Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Melorot, Ekspor Dapat Momentum

Peningkatan ekspor nasional justru perlu terus dilakukan karena daya saing meningkat di tengah pelemahan rupiah.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia