Rupiah Diterawang Kembali Masuk Zona Tekanan, Pakar Ungkap Penyebabnya
JAKARTA, investor.id - Nilai tukar (kurs) rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat siang, 19 Juni 2026.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 12.30 WIB di pasar spot exchange, menunjukkan nilai tukar rupiah hari ini masih bertahan di level Rp 17.848 per dolar AS.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah pada Jumat pagi (19/6) dibuka melemah 54 poin (0,30%) ke level Rp 17.848 per dolar AS.
Analis di Bank Woori Saudara, Rully Nova memprediksi pelemahan rupiah akan terus berlanjut melemah menjelang akhir pekan.
"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah di kisaran Rp 17.780 - Rp 17.860 per dolar AS, masih dipengaruhi oleh faktor-faktor global," kata Rully kepada Investor Daily di Jakarta pada Jumat (19/6/2026).
Ia menjelaskan, faktor-faktor eksternal yang melemahkan rupiah yaitu penahanan suku bunga Federal Reserve tetap tinggi untuk menekan risiko lonjakan inflasi AS.
"Kebijakan suku bunga The Fed yang hawkish memupus harapan penurunan suku bunga satu kali di tahun ini. Di sisi lain timbul kekhawatiran kenaikan suku bunga 1-2 kali lagi di tahun ini yg membuat indeks dolar AS terus menguat hingga 100.80 saat ini," beber Rully.
Dari sisi domestik, Rully menilai, kenaikan suku bunga acuan atau BI-Rate belum mampu menahan perlemahan rupiah, karena posisi dolar AS yang masih kuat.
Seperti diketahui, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk kembali menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 17-18 Juni 2026. Langkah ini diambil setelah suku bunga acuan sebelumnya telah dikerek sebanyak 75 basis poin (bps).
"Sampai akhir bulan juni ini kecenderungan rupiah masih akan pada tren perlemahan baik karna dolar AS yang sangat kuat maupun secara historis rupiah selalu melemah di bulan juni,"
Editor: Natasha Khairunisa
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






