Jumat, 15 Mei 2026

Ekonom Perkirakan Inflasi Mencapai 0,35% pada April 2023

Penulis : Grace El Dora
28 Apr 2023 | 19:44 WIB
BAGIKAN
Foto udara sejumlah kendaraan yang menuju Jakarta antre di Gerbang Tol Cikampek Utama 2, Karawang, Jawa Barat pada 26 April 2023. (Foto: ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/tom)
Foto udara sejumlah kendaraan yang menuju Jakarta antre di Gerbang Tol Cikampek Utama 2, Karawang, Jawa Barat pada 26 April 2023. (Foto: ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/tom)

JAKARTA, investor.id – Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman memperkirakan inflasi akan mencapai 0,35% secara month on month (MoM) pada April 2023, atau naik dari 0,18% pada Maret 2023 di tengah momen Lebaran.

“Hal ini terutama disebabkan oleh kenaikan tarif jasa angkutan penumpang dan harga hotel, serta restoran, yang terkait dengan kegiatan mudik,” katanya dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Jumat (28/4).

Sementara itu, meski di tengah Ramadan dan Lebaran, inflasi bahan pangan terlihat mereda karena kedua momentum yang meningkatkan permintaan masyarakat tersebut bertepatan dengan puncak musim panen.

ADVERTISEMENT

“Pasokan pangan telah mencukupi, sehingga kenaikan harga pangan menjadi sangat terbatas,” imbuhnya.

Mempertimbangkan empat bulan pertama tahun ini, inflasi year to date (YTD) diperkirakan mencapai 1,03% atau lebih rendah dari 2,15% pada periode Januari-April 2022.

“Kami perkirakan inflasi tahunan akan terus menurun, masih karena high base effect di tahun lalu,” tambah Faisal.

Secara tahunan, tingkat inflasi di April 2023 diperkirakan mencapai 4,35% atau melemah dari 4,97% pada Maret 2023.

“Namun, hal ini lebih dipengaruhi oleh inflasi yang tinggi pada April 2022 di tengah pelonggaran aturan pembatasan Covid-19 selama Ramadan, kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN), dan penyesuaian harga (bahan bakar minyak) BBM Pertamax,” katanya.

Inflasi inti diperkirakan akan terus melemah dari 2,94% secara year on year (YoY) di Maret 2023 menjadi 2,82% secara YoY di April 2023.

Dampak putaran kedua dari penyesuaian harga BBM bersubsidi pada September 2022 diperkirakan akan menurun lebih cepat dari perkiraan.

Inflasi tahunan juga diprediksi akan kembali ke kisaran target sebesar 2% sampai 4% pada akhir semester I-2023, atau lebih cepat dari perkiraan sebelumnya yakni pada semester II-2023.

“Dampak putaran kedua dari kenaikan harga BBM bersubsidi pada tahun lalu terlihat akan hilang sama sekali pada paruh kedua 2023. Kami tetap mempertahankan perkiraan inflasi kami di sekitar 3,60% pada akhir 2023,” katanya.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 3 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 4 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia