Ketegangan Iran dan Israel Turut Bebani Suku Bunga The Fed
JAKARTA, investor.id – Sebelum terjadi serangan balasan Iran ke Israel, beberapa pidato Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell tersirat sinyal langkah bank sentral ini untuk menurunkan suku bunga acuannya atau Fed Funds Rate (FFR). Suku bunga The Fed kini masih tertahan dan makin dibebani ketegangan antara Iran dan Israel.
Harapan untuk tiga kali penurunan suku bunga The Fed tahun ini kian sirna, dengan adanya serangan mendadak Iran ke Israel pada Sabtu (13/4/2024).
Saat ini, suku bunga The Fed masih tertahan di level 5,25% hingga 5,50% dan diprediksi akan tetap di level yang sama, bahkan berpotensi naik. Hal ini merupakan imbas lain dari eskalasi ketegangan di Timur Tengah.
Suku bunga acuan The Fed perlu diwaspadai oleh negara-negara lain, tak terkecuali Indonesia. Apalagi mengingat dolar Amerika Serikat (AS) menguat dan nilai tukar lainnya, termasuk rupiah. Suku bunga acuan yang tinggi menyebabkan tekanan lebih bagi nilai tukar rupiah.
Ekonom yang juga mantan Menteri Riset dan Teknologi RI periode 2019 -2021 Bambang Brodjonegoro menilai sebagai langkah antisipasi dampak suku bunga The Fed, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan tetap melakukan intervensi. Namun menurut informasi yang didapatnya, bank sentral tidak menggunakan cadangan dolar AS karena akan berakibat fatal.
"Kalau misal BI menaikkan suku bunga barangkali efeknya tidak terlalu kuat karena memang yang kejadian adalah dolar AS menguat terhadap semua mata uang akibat tingkat bunga yang tinggi. Ditambah sekarang gara-gara Iran-Israel, investor akan mencari safe haven. Tempat paling aman itu selalu dua, satu US dollar, satu (lagi obligasi pemerintah AS alias) US Treasury bond," ujar Bambang.
Antisipasi Kemungkinan Terburuk
Tak hanya itu, eskalasi konflik kedua antar dua negara dapat berdampak terhadap perubahan target pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5,2% menjadi ke kisaran 4,6% hingga 4,8% untuk 2024.
Demi mengantisipasi kemungkinan terburuk, Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati menyiapkan strategi untuk menjaga nilai tukar rupiah.
“Stabilitas ekonomi makro akan senantiasa dijaga, baik dari sisi moneter maupun fiskal. Koordinasi dengan BI terus dilakukan untuk beradaptasi dengan tekanan yang ada. Dari sisi fiskal, kita memastikan (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) APBN berperan menjadi shock absorber yang efektif dan kredibel,” jelasnya, menurut laporan Antara, Senin (22/4/2024).
Dilihat dari sisi ekspor, penerimaan akan jauh lebih baik dengan nilai tukar dolar AS yang menguat. Sedangkan konversi harga terhadap rupiah akan lebih tinggi dan bisa berdampak pada inflasi dari sisi impor.
Saat ini Indonesia juga dinilai masih resilien serta tangguh di tengah maraknya tekanan eksternal.
Sebagai langkah antisipasi lain, BI selalu memastikan stabilitas rupiah tetap terjaga dengan melakukan intervensi terhadap valuta asing (valas) serta pengelolaan aliran portfolio asing yang ramah pasar.
Termasuk melakukan operasi moneter yang propasar dan terintegrasi dengan pendalaman pasar uang guna mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia.
Bagaimanapun, selama belum terjadi deeskalasi konflik antara Iran dengan Israel, perekonomian global masih akan terus dihantui ketidakpastian. Dunia seakan belum cukup dengan konflik Rusia-Ukraina dan Israel-Hamas yang sudah memakan korban ratusan hingga ribuan rakyat sipil.
Oleh karena itu, saling balas antara Iran dan Israel sepatutnya menjadi konflik yang tidak perlu meluas hingga berakhir di perang terbuka. Sebab, perekonomian global selalu menjadi satu hal yang dipertaruhkan dalam suatu perang antarkepentingan pemimpin tinggi tersebut.
Tak Cukup Kuat untuk Mediasi
Di sisi lain, Ketua organisasi politik luar negeri nonpartisan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menilai Indonesia belum memiliki peran diplomasi yang cukup kuat untuk menjadi mediator konflik antar dua negara itu.
Ini mengingat tidak adanya hubungan diplomatik antara Indonesia dengan Israel, ditambah kerja sama Indonesia yang terbatas hanya pada beberapa sektor tertentu dengan Iran.
Indonesia masih mempunyai kesempatan untuk berkontribusi meredakan konflik dengan menitikberatkan diplomasi kepada Iran, dengan pertimbangan masih adanya kerja sama ekonomi dan diplomatik antara Indonesia dan Iran.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Tag Terpopuler
Terpopuler






