Luhut Tersinggung Kepatuhan Pajak Indonesia Disamakan dengan Nigeria
JAKARTA, investor.id – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengaku tersinggung setelah kepatuhan pajak Indonesia disamakan dengan Nigeria. Anggapan tersebut diutarakan Bank Dunia (Bank Dunia) saat melakukan pertemuan bersama Luhut beberapa waktu lalu.
Pihaknya menyebut kepatuhan pajak Indonesia disebut masih cukup rendah.
"Waktu World Bank datang ke kantor saya, tiga minggu yang lalu mengatakan Indonesia salah satu negara yang koleksi pajaknya paling jelek," ungkap Luhut saat ditemui di kawasan Setiabudi, Jakarta, Rabu (15/1/2025).
"Kita disamakan sama Nigeria waktu itu, saya agak tersinggung juga itu," kata Luhut. Oleh karenanya, pemerintah kini mengupayakan perbaikan ekosistem pelayanan dan kepatuhan pajak di dalam negeri.
Upaya ini akan dilakukan dengan implementasi sistem pelayanan dan pengawasan pajak secara digital, atau disebut Coretax. Coretax akan dibuat tersinkronasi dengan sistem teknologi pemerintahan bernama GovTech.
Luhut meminta agar semua pihak untuk tak langsung memberikan kritik di awal-awal implementasi Coretax.
"Ya tentu dalam satu bulan pertama, orang pastilah ada yang kurang sana-sini. Terus orang kritik, jangan buru-buru kritik," tambah dia. Berdasarkan catatan DEN, apabila inovasi tersebut dijalankan dengan baik maka potensi nilai pajak yang diraup pemerintah akan maksimal.
Tak tanggung-tanggung, nilai potensi yang dapat dimaksimalkan sekitar 6,5% dari total Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Jika dikonversi ke rupiah, angkanya dapat menembus Rp 1.500 triliun.
Apabila sistem ini telah berjalan optimal, maka masyarakat yang belum menunaikan tanggungan pajak akan kesulitan dalam mengurus dokumen-dokumen di lembaga pemerintahan.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






