Jumat, 15 Mei 2026

BI Sebut Deflasi Beruntun Tak Ada Hubungannya dengan Daya Beli Masyarakat

Penulis : Arnoldus Kristianus
6 Mar 2025 | 21:23 WIB
BAGIKAN
Museum Bank Indonesia (BI). (Foto: Istimewa)
Museum Bank Indonesia (BI). (Foto: Istimewa)

JAKARTA, investor.id – Bank Indonesia (BI) menilai terjadinya deflasi secara beruntun pada Januari dan Februari 2025 tidak ada hubungannya dengan daya beli masyarakat. Lantaran, komponen inflasi inti tetap terjaga selama dua bulan pertama pada 2025.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2025 terjadi deflasi sebesar 0,48% secara bulanan (month to month/ mtm).

Jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya atau secara tahunan (year on year/ YoY), terjadi deflasi 0,09% dan secara tahun kalender terjadi deflasi sebesar 1,24%. Meski terjadi deflasi, tetapi angka deflasi bulanan berbeda dari periode Januari 2025 yang sebesar 0,76%. Untuk tingkat deflasi tahun kalender Januari 2025 sebesar 0,76%.

ADVERTISEMENT

Jika dilihat secara tahunan maka telah terjadi inflasi 0,76% pada Januari 2025.

“Lazimnya yang kita gunakan untuk melihat deflasi itu adalah representasinya adalah inflasi inti karena yang lebih mencerminkan interaksi antara penawaran dan permintaan,” tutur Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juli Budi Winantya dalam Taklimat Media di Tugu Kuntskring Palais, Jakarta, Kamis (6/3/2025).

Komponen inti pada Februari 2025 mengalami inflasi tahunan sebesar 2,48% secara tahunan atau terjadi kenaikan indeks dari 103,37 pada Februari 2024 menjadi 105,93 pada Februari 2025.

Komponen ini memberikan andil inflasi sebesar 1,58% pada Februari 2025. Sedangkan secara bulanan komponen inti mengalami inflasi mencapai 0,25% dengan andil inflasi sebesar 0,16% terhadap inflasi Februari 2025.

“Terkait dengan inflasi inti sendiri, ini sampai dengan bulan Februari, inflasi inti secara tahunan ada di kisaran 2,48%. Jadi masih di angka yang rendah dan stabil,” terangnya.

Sebelumnya Sekjen Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Anggawira menjelaskan, deflasi selama dua bulan beruntun harus disikapi dengan hati-hati.

Di satu sisi, deflasi mencerminkan turunnya harga barang dan jasa yang berpotensi menguntungkan konsumen. Namun apabila terjadi terus-menerus, ini bisa menjadi indikasi permintaan masyarakat melemah, produksi melambat, dan aktivitas ekonomi berkurang.

“Deflasi dua bulan ini menjadi alarm agar pemerintah lebih waspada dalam menjaga stabilitas ekonomi,” terang Anggawira.

Deflasi turut menunjukkan adanya tekanan pada sektor riil, seperti penurunan konsumsi rumah tangga dan investasi. Dalam konteks Indonesia, deflasi selama dua bulan awal tahun ini bisa dipengaruhi oleh turunnya harga komoditas tertentu, seperti bahan makanan, serta penyesuaian harga setelah periode belanja tinggi akhir tahun.

Namun, jika deflasi ini berlanjut, perlu diwaspadai dampaknya terhadap target pertumbuhan ekonomi nasional.

“Perlu upaya terpadu dalam menjaga pasokan, mengendalikan harga, dan memperkuat daya beli agar momentum Ramadan dan Lebaran menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi yang sehat dan stabil” tegasnya.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 44 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 8 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia