Wacana Pemerintah Bawa Pengungsi Gaza, Pakar UGM Ingatkan Aspek Geopolitik
YOGYAKARTA, investor.id - Presiden Prabowo Subianto menyatakan niatnya untuk menerima seribu pengungsi asal Gaza, Palestina, ke Indonesia sebagai bentuk kepedulian terhadap warga yang terdampak konflik berkepanjangan dengan Israel.
Wacana ini memicu beragam reaksi, mulai dari dukungan hingga penolakan karena dikhawatirkan bisa memengaruhi status politik warga Palestina.
Guru Besar UGM Bidang Geopolitik Timur Tengah, Prof. Dr. Siti Mutiah Setiawati, MA berpendapat, menerima pengungsi dari wilayah konflik tidak melanggar prinsip politik luar negeri Indonesia, selama tidak menimbulkan gangguan terhadap keamanan dan kepentingan nasional.
“Pihak Indonesia bisa lebih meningkatkan kontribusinya untuk UNRWA,” ujar Siti Mutiah, dosen Program Studi Hubungan Internasional Fisipol UGM, Rabu (16/4).
Menurut Siti, membantu pengungsi melalui peningkatan kontribusi kepada UNRWA (United Nations Relief and Works Agency for Palestine in the Near East) dinilai lebih praktis dibandingkan membawa mereka ke Indonesia.
Siti menyarankan agar negara-negara tetangga seperti Mesir dan Yordania didorong untuk menerima pengungsi, mengingat kesamaan budaya dan jarak geografis yang lebih dekat.
Partisipasi Indonesia dalam isu Palestina, lanjutnya, sudah dilakukan melalui bantuan ekonomi dan pendekatan diplomatik.
“Masalah Palestina bagi negara-negara Arab sudah dianggap sebagai masalah bersama Arab. Prinsip ini harus diingatkan kembali, gangguan terhadap salah satu negara Arab merupakan ancaman terhadap semua negara Arab,” jelasnya.
Meskipun demikian, Siti mengapresiasi niat baik pemerintah Indonesia untuk membantu warga Gaza yang rumahnya telah hancur hingga 95%. Namun, ia menekankan pentingnya memperhatikan berbagai aspek geopolitik dan teknis, seperti proses pengangkutan, penempatan pengungsi, hingga peran UNRWA dalam skema penanganan.
Ia juga menyoroti potensi dampak dari kebijakan tersebut. Di satu sisi, Indonesia bisa memperoleh citra positif di mata dunia sebagai negara yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
“Indonesia mendapat posisi yang menguntungkan di panggung internasional karena akan semakin dikenal oleh negara-negara lainnya,” ujarnya.
Namun di sisi lain, Siti memperingatkan adanya potensi dampak negatif seperti benturan budaya dengan masyarakat lokal, kesiapan tempat tinggal, hingga beban logistik dan biaya. Ia menekankan pentingnya data akurat mengenai usia, gender, kondisi kesehatan, dan latar belakang para pengungsi.
“Data mengenai pengungsi usia, gender, kesehatan, latar belakang pun harus disiapkan. Selain itu, kemungkinan akan muncul jika tempat yang dipilih dekat dengan penduduk setempat kemungkinan akan terjadi perbenturan budaya harus dipikirkan,” pungkasnya.
Editor: Maswin
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






