Ritual Tawur Agung Kesanga di Pura Besakih
BESAKIH-Ritual upacara "Tawur Agung Kesanga" atau korban suci untuk keharmonisan alam semesta yang diselenggarakan di pelataran Pura Besakih, Kabupaten Karangasem, dihadiri umat Hindu dari pelosok desa di Bali.
"Kegiatan upacara Tawur Agung Kesanga saat ini dalam tingkatan Tabuh Gentuh dengan menyembelih sejumlah hewan sebagai kurban suci," kata Jero Mangku Gede Pande, panitia kegiatan ritual tersebut kepada Antara di Besakih, Senin (11/3).
Ia mengatakan bahwa puluhan jenis bintang kurban melengkapi kegiatan ritual Tawur Kesanga berkaitan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1935. Adapun binatang kurban kelengkapan upacara itu, antara lain, kerbau, sapi, kambing, kijang, angsa, itik, burung kerkuak, babi, ayam, dan kera.
"Semua jenis binatang kurban tersebut disucikan (mapepada) yang telah dilakukan pada hari Minggu (10/3) atau sehari sebelum kegiatan ritual ini," katanya.
Gubernur Bali Made Mangku Pastika, Wakil Gubernur Anak Agung Puspayoga, serta Bupati Karangasem I Wayan Geredeg berbaur dengan umat dari berbagai pelosok perdesaan di Pulau Dewata.
Kegiatan yang bermakna membersihkan alam semesta secara spiritual itu dipimpin oleh tiga rohaniawan, yakni Ida Pedanda Siwa, Ida Pedanda Buddha, dan Ida Rsi Bujangga Waisnawa.
Acara persembahyangan berlangsung khidmat yang diiringi dengan lantunan lagu-lagu kerohanian (kekidung) serta alunan instrumen gamelan Bali.
Selain itu, juga dipentaskan tarian wali Bali, yaitu Topeng Sidakarya dan Wayang Lemah serta kurban lainnya berupa Tabuh Rah atau sabung ayam.
Berdasarkan sejarah keberadaan Pura Agung Besakih merupakan tempat suci umat Hindu terbesar di Bali yang berada di kaki Gunung Agung itu mempunyai arti penting bagi kehidupan umat Hindu adalah tempat beristananya para Dewa.
Pura Besakih juga berfungsi sebagai Pura Rwa Bhineda, Sad Kahyangan Jagat, Padma Bhuana, dan pusat dari segala kegiatan upacara keagamaan.
Perhatian terhadap Pura Besakih dimulai sejak pemerintahan Raja Sri Udayana Warmadewa (pada tahun 1007) hingga pemerintahan raja-raja keturunan Sri Kresna Kepakisan (pada tahun 1444 dan 1454 Masehi).
Perhatian besar sang raja itu dilanjutkan pada zaman penjajahan Hindia Belanda di Indonesia dalam bentuk restorasi secara besar-besaran terhadap beberapa kompleks bangunan suci yang rusak akibat bencana alam.(*/hrb)
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkini
Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.Tag Terpopuler
Terpopuler

