Kamis, 14 Mei 2026

Net Sell Beruntun, Asing Fokus Obral Saham Ini

Penulis : Jauhari Mahardhika
12 Mei 2026 | 21:18 WIB
BAGIKAN
Pengunjung berada di galeri saham Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (Investor Daily/David Gita Roza)
Pengunjung berada di galeri saham Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (Investor Daily/David Gita Roza)

JAKARTA, investor.id – Investor asing melanjutkan transaksi jual bersih (net sell) saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (12/5/2026). Giliran saham ANTM diobral asing, plus BMRI, CUAN, DSSA.

Net sell asing di seluruh pasar hari ini sebesar Rp 931,89 miliar. Dengan demikian, total net sell asing sepanjang tahun berjalan ini kembali bertambah menjadi Rp 39,29 triliun – berdasarkan data BEI.

Net sell terbesar di pasar reguler melanda saham PT Antam Tbk (ANTM) mencapai Rp 217,7 miliar.

ADVERTISEMENT

Selain saham ANTM, asing juga banyak menjual saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan net sell sebesar Rp 181,7 miliar.

Kemudian, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Net sell asing pada saham CUAN sebesar Rp 174,1 miliar dan DSSA senilai Rp 140,1 miliar.

Sebaliknya, transaksi beli bersih (net buy) terbanyak oleh investor asing dialami saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO). Namun, nilainya relatif tidak signifikan. Net buy asing pada saham ADRO sebesar Rp 95,1 miliar.

Sementara itu, indeks harga saham gabungan (IHSG) hari ini ditutup terpangkas 46,72 poin (0,68%) ke level 6.858,9. Sebanyak 217 saham naik, 486 saham turun, dan 256 saham stagnan. Total nilai transaksi mencapai Rp 16,04 triliun.

Beberapa sektor saham masih mengalami penguatan pada penutupan pasar hari ini, dengan penguatan terbesar di sektor barang baku mencapai 1,8%.

Diikuti penguatan di sektor transportasi sebesar 1,59%, sektor keuangan 0,3%, dan sektor energi 0,01%.

Sebaliknya, pelemahan melanda sektor kesehatan 3,5%, sektor perindustrian 3,2%, sektor infrastruktur 1,5%, sektor barang konsumen non-primer 1,4%, sektor properti 0,6%, sektor teknologi 0,4%, dan sektor barang konsumen primer 0,06%.

Menurut Pilarmas Investindo Sekuritas, sentimen negatif muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyebut gencatan senjata antara AS dan Iran berada dalam kondisi kritis. Trump juga dikabarkan menolak proposal perdamaian terbaru dari Teheran, sehingga meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz.

Pelaku pasar juga menaruh perhatian pada rencana pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping pada akhir pekan ini. Investor berharap pertemuan tersebut dapat menjaga stabilitas hubungan dagang AS-China yang masih rapuh, sekaligus membahas konflik Timur Tengah dan isu Taiwan.

Dari sentimen domestik, Pilarmas menyebutkan bahwa tekanan terhadap IHSG turut dipengaruhi pelemahan rupiah akibat penguatan dolar AS. Ketidakpastian global di tengah konflik geopolitik dan ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi The Fed mendorong arus dana mengalir ke aset dolar AS.

Pasar juga mengantisipasi pengumuman rebalancing MSCI Indonesia yang dinilai menjadi salah satu indikator penting bagi investor global dalam menilai prospek pasar modal Indonesia.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 29 menit yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 40 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 2 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia