Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bima Yudhistira, Direktur CELIOS (Center of Economic and Law Studies) dalam diskusi Zooming with Primus - Peluang Investasi 2022, live di Beritasatu TV, Kamis (13/1/2022). Sumber: BSTV

Bima Yudhistira, Direktur CELIOS (Center of Economic and Law Studies) dalam diskusi Zooming with Primus - Peluang Investasi 2022, live di Beritasatu TV, Kamis (13/1/2022). Sumber: BSTV

Ekonomi Tahun 2022 Dihantui Harga Energi

Kamis, 13 Januari 2022 | 15:14 WIB
Thresa Sandra Desfika (thresa.desfika@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyoroti harga komoditas energi yang mengalami kenaikan, bukan hanya batu bara, tapi juga minyak mentah.

“Salah satu concern sekarang memang harga beberapa komoditas energi bukan hanya soal batu bara tapi kalau kita cek dari harga minyak mentah itu masih berada di atas US$ 80-86 per barel,” ujar Bhima dalam diskusi Zooming with Primus (ZwP) bertajuk ‘Peluang Investasi 2022’ yang ditayangkan Beritasatu TV secara langsung, Kamis (13/1).

Baca juga: Perekonomian Pulih Di 2022, Ini Dampaknya Pada Sektor Energi

Dengan adanya kenaikan harga energi ini, lanjut dia, akan berdampak pada peran negara kuat tidak melakukan intervensi secara fiskal ataupun dari belanja negaranya.

“Pertama, alokasi subsidinya cukup atau tidak. Kemudian seberapa lama, dalam konteks Pemerintah Indonesia khususnya ini, seberapa lama bisa menahan harga BBM non-subsidi tidak mengalami penyesuaian. Kemarin LPG non-subsidi disesuaikan,” lengkap Bhima.

Berikutnya, sambung Bhima, soal tarif listrik. Hal ini mengingat sempat ada pelarangan batu bara yang merupakan implikasi jika tidak dilakukan, maka pasokan batu bara sulit sehingga tarif listrik bisa mengalami penyesuaian, bahkan hingga blackout atau pemadaman.

“Ini kan implikasinya juga kepada biaya hidup yang akan ditanggung sepanjang 2022 baik bagi masyarakat rumah tangga maupun biaya operasional yang ditanggung oleh sektor usaha, seperti industri pengolahan ini akan ada mengalami kenaikan,” ucap Bhima.

Dia menambahkan industri pengolahan sudah terbebani dengan adanya biaya logistik atau pengiriman bahan baku impor yang naik harganya. Jika ditambah biaya energi yang mengalami penyesuaian tentu akan berdampak, entah pada memotong margin keuntungan atau meneruskan biaya-biaya tadi kepada konsumen.

Baca juga: AS akan Menuju Pertumbuhan Ekonomi Terbaik

“Ini balik lagi konsumennya siap atau tidak menanggung dari kenaikan harga energi yang sepertinya kalau dicatat dalam The Fed meeting itu ternyata sifatnnya bukan hanya transisi, inflasi dari energi khususnya. Tapi khawatir sifatnya persisten setidaknya sampai akhir 2022,” ujar dia.

Karena itu, Bhima menuturkan, perlu ada antisipasi dari pemerintah dan BUMN yang menyalurkan energi. “Seberapa kuat kondisi keuangannya sehingga harapannya sih tidak ada kenaikan harga BBM non-subsidi dan tarif listrik termasuk juga untuk industri sampai dengan akhir tahun 2022,” jelas Bhima.

 

Editor : Theresa Sandra Desfika (theresa.sandra@investor.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN