Kamis, 14 Mei 2026

Ekonomi Tahun 2022Dihantui Harga Energi

Penulis : Thresa Sandra Desfika
13 Jan 2022 | 15:14 WIB
BAGIKAN
Bima Yudhistira, Direktur CELIOS (Center of Economic and Law Studies) dalam diskusi Zooming with Primus - Peluang Investasi 2022, live di Beritasatu TV, Kamis (13/1/2022). Sumber: BSTV
Bima Yudhistira, Direktur CELIOS (Center of Economic and Law Studies) dalam diskusi Zooming with Primus - Peluang Investasi 2022, live di Beritasatu TV, Kamis (13/1/2022). Sumber: BSTV

JAKARTA, investor.id – Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyoroti harga komoditas energi yang mengalami kenaikan, bukan hanya batu bara, tapi juga minyak mentah.

“Salah satu concern sekarang memang harga beberapa komoditas energi bukan hanya soal batu bara tapi kalau kita cek dari harga minyak mentah itu masih berada di atas US$ 80-86 per barel,” ujar Bhima dalam diskusi Zooming with Primus (ZwP) bertajuk ‘Peluang Investasi 2022’ yang ditayangkan Beritasatu TV secara langsung, Kamis (13/1).

Dengan adanya kenaikan harga energi ini, lanjut dia, akan berdampak pada peran negara kuat tidak melakukan intervensi secara fiskal ataupun dari belanja negaranya.

ADVERTISEMENT

“Pertama, alokasi subsidinya cukup atau tidak. Kemudian seberapa lama, dalam konteks Pemerintah Indonesia khususnya ini, seberapa lama bisa menahan harga BBM non-subsidi tidak mengalami penyesuaian. Kemarin LPG non-subsidi disesuaikan,” lengkap Bhima.

Berikutnya, sambung Bhima, soal tarif listrik. Hal ini mengingat sempat ada pelarangan batu bara yang merupakan implikasi jika tidak dilakukan, maka pasokan batu bara sulit sehingga tarif listrik bisa mengalami penyesuaian, bahkan hingga blackout atau pemadaman.

“Ini kan implikasinya juga kepada biaya hidup yang akan ditanggung sepanjang 2022 baik bagi masyarakat rumah tangga maupun biaya operasional yang ditanggung oleh sektor usaha, seperti industri pengolahan ini akan ada mengalami kenaikan,” ucap Bhima.

Dia menambahkan industri pengolahan sudah terbebani dengan adanya biaya logistik atau pengiriman bahan baku impor yang naik harganya. Jika ditambah biaya energi yang mengalami penyesuaian tentu akan berdampak, entah pada memotong margin keuntungan atau meneruskan biaya-biaya tadi kepada konsumen.

“Ini balik lagi konsumennya siap atau tidak menanggung dari kenaikan harga energi yang sepertinya kalau dicatat dalam The Fed meeting itu ternyata sifatnnya bukan hanya transisi, inflasi dari energi khususnya. Tapi khawatir sifatnya persisten setidaknya sampai akhir 2022,” ujar dia.

Karena itu, Bhima menuturkan, perlu ada antisipasi dari pemerintah dan BUMN yang menyalurkan energi. “Seberapa kuat kondisi keuangannya sehingga harapannya sih tidak ada kenaikan harga BBM non-subsidi dan tarif listrik termasuk juga untuk industri sampai dengan akhir tahun 2022,” jelas Bhima.

Editor: Theresa Sandra Desfika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 10 menit yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 40 menit yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 51 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 2 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia