Jumat, 15 Mei 2026

BI Sebut Inflasi September Terkendali, Begini Pertimbangannya

Penulis : Triyan Pangastuti
19 Okt 2022 | 13:15 WIB
BAGIKAN
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. (Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu)
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. (Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu)

JAKARTA, Investor.id - Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyebut laju inflasi September sebesar 5,9% (yoy) masih tergolong rendah, dibandingkan proyeksinya.

Apalagi pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi dan non subsidi alhasil berpotensi kerek inflasi lebih tinggi pada awal September. "Setelah penyesuaian harga pertalite dan solar inflasi bulan lalu 5,9% (yoy) masih lebih rendah, dibandingkan perkiraan sebesar 6,2% (yoy)," ucapnya dalam Seminar Nasional Badan Keahlian DPR RI, Rabu (19/10).

Dia menjelaskan bahwa inflasi September yang terkendali di tengah kenaikan harga BBM tidak terlepas dari koordinasi dan sinergi yang erat antara pemerintah pusat dan daerah untuk mengatasi dampak rambatan penyesuaian harga BBM ke harga makanan.

ADVERTISEMENT

"Kami terimakasih ke DPR dan Bu Menteri Keuangan dengan subsidi kepada masyarakat dan golongan rendah dan perlindungan sosial dalam bentuk bansos inflasi kita lebih rendah dari negara lain. Jadi kenapa harga pangan, angkutan kenaikan enggak setinggi diperkirakan," ucapnya.

Dengan kondisi ini terkini, maka laju inflasi hingga akhir tahun diproyeksi 6,3% (yoy) dari semula di kisaran 6,6-6,7% (yoy). Laju inflasi yang rendah dan terkendali dinilainya penting untuk mempertahankan dan mendorong daya beli masyarakat serta menggerek konsumsi rumah tangga.

Meski inflasi tahun ini masih cenderung naik, Perry berjanji akan memperkuat sinergi dengan pemerintah untuk menekan laju inflasi. Harapannya inflasi akan kembali menurun pada kuartal III 2023 kembali di kisaran 3 plus minus 1%.

"Inflasi inti tunjukan kekuatan permintaan dan penawaran lebih rendah. Inflasi inti lebih rendah dari permintaan semula 4,6% (yoy) perkiraan kami terakhir 4,3% bulan Desember. Kemudian akan menurun di Januari, Februari, kami akan memastikan bersama pemerintah mulai kuartal III 2023 akan lebih rendah dari 4% atau atau masuk sasaran 3 plus minus 1 persen,"ucapnya.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia