Jumat, 15 Mei 2026

Bunga Acuan BI Naik, Kok Rupiah Malah Melemah?

Penulis : Triyan Pangastuti
17 Nov 2022 | 17:35 WIB
BAGIKAN
Petugas menghitung uang dolar Amerika Serikat di BNI KC Mega Kuningan, Jakarta. (Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/tom)
Petugas menghitung uang dolar Amerika Serikat di BNI KC Mega Kuningan, Jakarta. (Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/tom)

JAKARTA, investor.id - Bank Indonesia (BI) menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih lebih baik dibandingkan negara lain. Hal ini lebih disebabkan faktor ketidakpastian global.

Adapun nilai tukar rupiah ditutup melemah 63 poin di level Rp 15.662 per dolar AS dalam penutupan perdagangan sore ini, Kamis (17/11).

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, kuatnya dolar AS dan tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global memberikan tekanan pelemahan nilai tukar hampir seluruh mata uang dunia termasuk rupiah.

ADVERTISEMENT

"Pelemahan nilai tukar dialami hampir seluruh negara dan kenapa dolar sangat kuat? Karena agresifnya kenaikan suku bunga Fed Fund Rate seiring sangat tingginya inflasi di AS, baik faktor suplai dan permintaan sangat kuat dan faktor upah dan kenaikan jasa-jasa," tuturnya dalam Konferensi Pers RDG, Kamis (17/11).

Dalam catatan BI, indeks nilai tukar terhadap mata uang utama atau indeks dolar AS (DXY) mencapai 106,28 pada 16 November 2022 atau mengalami penguatan sebesar 11,09% year-to-date (ytd) selama tahun 2022.

Menurut dia, dengan langkah-langkah stabilisasi yang dilakukan oleh Bank Indonesia, nilai tukar rupiah sampai dengan 16 November 2022 terdepresiasi 8,65%n (ytd) dibandingkan dengan level akhir 2021.

"Depresiasi nilai tukar Rupiah tersebut relatif lebih baik dibandingkan dengan depresiasi mata uang sejumlah negara lain di kawasan, seperti Korea Selatan 10,30 persen (ytd) dan Filipina 11,10 persen (ytd)," ujar Perry.

Ia melihat kekuatan dolar AS didorong oleh pengetatan kebijakan moneter yang agresif di AS dan penarikan modal dari berbagai negara ke AS di tengah melemahnya ekonomi dan tingginya inflasi di Eropa. Pada saat bersamaan, tingginya ketidakpastian pasar keuangan global berlanjut.

"Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan bekerjanya mekanisme pasar dan nilai fundamentalnya untuk mendukung upaya pengendalian inflasi dan stabilitas makroekonomi," pungkas dia.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 18 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 20 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 1 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia