Jumat, 15 Mei 2026

Memasuki 2023, BI Ingatkan Risiko Global Berikut

Penulis : Triyan Pangastuti
14 Des 2022 | 14:19 WIB
BAGIKAN
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo saat memberikan paparan pada acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2022 yang digelar secara hybrid di Jakarta (30/11/2022). (Sumber: Bank Indonesia)
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo saat memberikan paparan pada acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2022 yang digelar secara hybrid di Jakarta (30/11/2022). (Sumber: Bank Indonesia)

JAKARTA, Investor.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan beberapa risiko global yang patut untuk diwaspadai Indonesia tahun depan, khususnya dari sisi global.

Pertama, tingkat suku bunga global yang tetap tinggi dan berlangsung lebih lama pada 2023, higher interest for longer. Kebijakan moneter yang masih ketat, untuk meredam inflasi di tahun depan.

"FFR dapat capai 5% dalam merespon inflasi dan diperkirakan akan tetap tinggi selama 2023,"tuturnya dalam acara Seminar ISEI Jakarta, Rabu (4/12).

ADVERTISEMENT

Ketidakpastian di pasar keuangan global, juga telah memicu penguatan dolar AS yang menimbulkan tekanan depresiasi terhadap berbagai mata uang dunia termasuk rupiah. Sehingga memunculkan fenomena cash is king dan meningkatkan persepsi investor.

"Karena tingginya persepsi risiko menarik dananya emerging market dan memindahkan ke aset-aset likuid yang tentu saja untuk menghindari gejolak global,"pungkasnya.

Risiko ketiga, berlanjutnya perang Rusia-Ukraina dan perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok. Bahkan Tiongkok diprediksi masih akan menerapkan kebijakan lockdownnya di tahun depan. Risiko ini menimbulkan gangguan mata rantai pasok global.

"Ini membuat masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan, karena pertumbuhan ekonomi global akan menurun atau slow growth di tahun depan,"ungkapnya.

Perlambatan ekonomi global juga tercermin dari risiko resesi di AS dan Eropa yang meningkat perekonomian global berpotensi menurun. Hal ini tercermin dari risiko resesi di AS dan Eropa yang meningkat.

Meski demikian, Perry optimistis bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap kuat seiring kuatnya momentum pemulihan ekonomi, maka pertumbuhan ekonomi akan di kisaran 4,3%-5,3% tahun depan.

“Selain ekspor, konsumsi dan investasi akan menjadi daya dukung pertumbuhan ekonomi Indonesia, juga didukung oleh program hilirisasi, pembangunan infrastruktur, masuknya modal asing dan berkembangnya pariwisata,” tutur Perry.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 13 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia