Waspada, Inflasi Pangan di Bulan Ramadan
JAKARTA, investor.id – Pemerintah mewaspadai terjadinya inflasi khususnya pada komponen harga pangan bergejolak (volatile food). Terutama, pada bulan Ramadan dan Lebaran pada kuartal II-2023. Pemerintah menargetkan inflasi berada pada kisaran 3% plus minus 1% pada tahun ini.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemerintah harus melakukan langkah antisipasi, sebab pada Maret dan April biasanya terjadi faktor musiman, yaitu bulan Ramadan dan hari raya Lebaran. Dalam momentum tersebut terjadi kenaikan permintaan dan mobilitas masyarakat juga melonjak.
“Kita mewaspadai dengan perkembangan harga pangan ini terutama mulai masuk bulan Ramadan dan menjelang Lebaran, jadi ini menjadi faktor yang sekarang diperhatikan pemerintah yaitu volatile food yang sekarang masih di level 5,7%,” ucap Sri Mulyani, Rabu (22/2/2023).
Pemerintah bersama Bank Indonesia (B) bekerjasama dalam menjaga kestabilan inflasi. Pemerintah telah menugaskan Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) agar pengendalian inflasi bisa dilakukan secara sinergis dari pemerintah pusat hingga daerah.
Baca Juga:
Jokowi: Harga Beras Harus Terkendali“Kerja sama antara pemerintah dan BI serta berbagai jenjang pemerintah pusat dan daerah melalui tim pengendali inflasi ini mampu mengendalikan inflasi Indonesia pada level yang relatif moderat dibandingkan negara-negara maju, 5,28% yoy atau kenaikan 0,34%,” jelas Sri Mulyani.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah dan BI menyepakati lima langkah strategis untuk konsisten menjaga inflasi pada kisaran 3%±1% pada tahun 2023.
“Hal yang dilakukan untuk mencapai target 3% plus minus 1% di tahun 2023 adalah memperkuat kebijakan dan menjaga stabilitas makroekonomi, mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Airlangga.
Lima langkah strategis ditempuh melalui penguatan koordinasi di tingkat pusat dan daerah adalah memperkuat koordinasi kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional; menjaga inflasi komponen volatile food, terutama pada masa Hari Besar Keagamaan Nasional, ehingga berada pada kisaran 3% sampai 5%; memperkuat ketahanan pangan domestik melalui akselerasi implementasi program lumbung pangan dan perluasan kerja sama antardaerah; memperkuat ketersediaan data pangan untuk mendukung perumusan kebijakan pengendalian inflasi; memperkuat sinergi komunikasi untuk mendukung pengelolaan ekspektasi inflasi masyarakat.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler





